Kepanikan di Lereng Everest

Andikha Prasetyo/M-6
26/4/2015 00:00
Kepanikan di Lereng Everest
Warga mengeruk reruntuhan untuk mencari korban yang tertimbun akibat gempa berkekuatan 7,9 pada skala Richter di Kathmandu, Nepal, kemarin.(AFP/PRAKASH MATHEMA)

MARET-MEI sejatinya menjadi musim pendakian di Gunung Everest yang masuk wilayah Nepal dan Tibet. Sebab, di bulan itu cuaca agak bersahabat ketimbang bulan-bulan lainnya. Namun, kemarin, alam di sekitar gunung tertinggi di dunia itu 'murka' diguncang gempa berkekuatan 7,9 pada skala Richter (SR). Gempa mengguncang wilayah Nepal dan India bagian utara.

"Kamp-kamp hancur. Guncangan tersebut meluluhlantakkan semua yang ada. Semua dokter di sini melakukan apa yang bisa dilakukan," tulis seorang dokter yang sekaligus pendaki, Nima Namgyal, dalam akun Facebook-nya, seperti dikutip AFP.

"Kami berusaha sekuat mungkin untuk menyelamatkan semuanya," ujar Nima, warga dari suku Sherpa yang umumnya memang berprofesi membantu para pendaki.

Sejak gempa terjadi pada pukul 06.11 waktu setempat, petugas medis yang memang sudah berjaga-jaga di lokasi pendakian. Kenyataan itu terbukti, gempa memicu longsoran salju dan mengubur beberapa kamp pendakian. Para pendaki yang berasal dari berbagai negara itu pun panik. Alex Gavan, salah seorang pendaki asal Turki melalui akun Twitter-nya mewartakan,

"Banyak sekali orang di sini. Kami semua berlari untuk menyelamatkan diri."

Longsoran tersebut menghancurkan kamp-kamp dan mengirim lembaran es besar yang menerjang apa saja yang ada di depannya.

"Kami yang selamat membantu mencari dan menyelamatkan korban dari puing-puing besar. Banyak yang mati. Banyak juga yang terluka. Jika helikopter tidak datang secepatnya, keadaan akan semakin buruk di sini," lanjutnya.

Kepala biro AFP untuk Nepal, Ammu Kannampilly, yang juga berada di lokasi pendakian tersebut juga melalui akun Twitter-nya mengatakan kengerian terjadi di mana-mana.

"Di sini bersalju, tidak ada helikopter yang datang. Tangan saya terluka, tapi saya telah mengurusnya. Setidaknya pendarahannya berhenti."

Pendaki lainnya, Daniel Mazur, dari organisasi SummitClimb, juga mengabarkan kondisi di sana dan berharap bantuan.

"Kamp kami hancur. Sebagian tim berada di dalam salah satu kamp tersebut. Tolong bantu doa untuk kami," celotehnya di Twitter.

Sejauh ini, belasan orang dinyatakan tewas di wilayah pendakian tersebut. Diperkirakan jumlah korban bakal bertambah karena masih ada ratusan pendaki yang tak diketahui nasibnya. Helikopter belum bisa dikirimkan karena lokasi yang bersalju.

Insiden ini merupakan yang terburuk sejak longsor yang terjadi April tahun lalu. Ketika itu, 16 pendaki dinyatakan tewas.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya