Di Tengah Krisis Korona, Perlukah Tradisi Nyadran

Mediaindonesia.com
27/3/2020 20:41
Di Tengah Krisis Korona, Perlukah Tradisi Nyadran
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat(MI/Haryanto Mega)

PEMERINTAH pusat dan daerah perlu memikirkan jalan keluar terkait pelaksanaan tradisi Nyadran menjelang Ramadan 2020 di tengah wabah covid-19 di Indonesia.

"Tradisi Nusantara Nyadran memiliki nilai adiluhung. Nyadran juga wujud relasi antara manusia, leluhur, alam, dan Tuhan. Untuk itu perlu antisipasi dengan koordinasi baik antar pemerintah pusat dan daerah di tengah wabah covid 19 ini karena akan ada mobilitas tinggi dari perkotaan ke pedesaan," ujar Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, Jumat (27/3).

Lestari yang biasa disapa Mbak Rerie ini menegaskan, sejak 16 Maret 2020 lalu, pemerintah mengimbau masyarakat Indonesia untuk melakukan kegiatan di dalam rumah dan hindari kegiatan di luar rumah. Presiden Jokowi telah mengimbau agar kegiatan seperti belajar, bekerja dan beribadah baiknya dilakukan di rumah.

Tetapi, Ramadan 2020 menjelang dalam hitungan hari, diperkirakan akan jatuh pada 24 April 2020. Masyarakat Indonesia memiliki tradisi Nyadran, yang merupakan rangkaian budaya berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur, biasanya dilakukan sejak sebulan hingga satu hari menjelang Ramadan.

Mengantisipasi potensi penyebaran covid 19, menurut Mbak Rerie kegiatan Nyadran ini patut menjadi perhatian semua pihak baik pemerintah pusat dan daerah. Karena Nyadran akan melibatkan keramaian yang tentunya berpotensi meningkatkan penyebaran virus korona.

"Upaya keras harus kita lakukan bersama mencegah penyebaran kovid 19 dari kawasan perkotaan yang menjadi zona merah ke pelosok perdesaan," ujar Mbak Rerie yang juga legislator Partai NasDem dari Dapil Jawa Tengah 2 (Jepara-Kudus-Demak).

Tanpa mengabaikan tradisi kultural, menurut Mbak Rerie, perlu dipikirkan cara-cara melestarikan tradisi Nyadran. Salah satu jalan keluar, dengan lebih melibatkan kerabat dan tenaga lokal.

Misalnya, untuk merawat makam - libatkan warga lokal sekaligus memberi kemanfaatan ekonomi bagi kerabat di kampung halaman. Dengan demikian, akan meminimalisir risiko penyebaran lewat pergerakan masyarakat dari episentrum wabah kovid 19 ke pelosok pedesaan.

Apalagi, jelas Mbak Rerie, situasi Indonesia bahkan dunia saat ini berada dalam kondisi gawat darurat, sehingga membutuhkan perhatian dan kerja sama semua pihak  pemerintah dan rakyatnya. (OL-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Baharman
Berita Lainnya