Sri Budi Lestari, 59, bersama putra sulungnya, Budi Prasetyo, 36, berfoto seusai diwisuda.(HUMAS UGM/GUSTO GREHENSON)
ADA yang menarik dan unik di antara 1.478 wisudawan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, kemarin. Seorang ibu dan anak kandungnya sama-sama diwisuda sebagai doktor. Keduanya merupakan staf pengajar di Universitas Diponegoro, Semarang.
Ibu itu bernama Sri Budi Lestari, 59, dan anak tersebut ialah putra sulungnya, Budi Prasetyo, 36. Sang ibu mengambil kuliah di bidang kajian budaya dan media, sedangkan anaknya di prodi ilmu lingkungan.
Perjalanan Sri Budi Lestari, yang akrab disapa Ayie, meraih gelar doktor penuh perjuangan. Sejak lima tahun lalu hingga saat ini ia mesti duduk di kursi roda. Itu karena ia menderita penyakit demyelinisasi (demielinasi), gejala robeknya selubung mielin pada neuron yang menyebabkan gangguan aliran sinyal saraf individu.
Ayie mengungkapkan ketika baru satu setengah tahun mengikuti kuliah S-3, ia merasa otot paha kanannya tiba-tiba mengecil. Dokter menyatakan penyakit demielinasi. Saat itu Ayie sempat memutuskan tidak ingin melanjutkan pendidikan doktornya.
"Tapi anak dan suami memotivasi. Begitu juga promotor saya, Prof Suhartono. Mereka mendukung dan mendorong saya untuk menyelesaikan kuliah. Sakitnya kan cuma di sini (paha), yang lain sehat," kata ibu tiga anak itu menirukan ucapan sang promotor seusai prosesi wisuda di Grha Sabha Pramana UGM.
Namun, karena kondisi itu, sang suami, Didik Samadikun, selalu mendampinginya. "Suami saya sampai ikut kuliah dan seminar. Untung dia sudah purnatugas, jadi bisa menemani," kata Ayie menyinggung sang suami yang pensiunan staf ahli Gubernur Jawa Tengah.
Berbagai dukungan itulah yang membuat Ayie kembali menemukan semangat untuk meneruskan kuliah. Akhirnya pendidikan doktoralnya itu ia selesaikan dalam waktu enam tahun, empat bulan.
"Saya ingin memotivasi dan menginspirasi yang muda-muda. Saya sudah 23 tahun beraktivitas (sebagai pengajar)," kata Ayie.
Sang anak, Budi, mengaku tidak menyangka bisa diwisuda bersama ibunda. Sejak awal, akunya, saling mendukung untuk segera menyelesaikan pendidikan S-3 masing-masing.
"Dari dulu saya sudah berangan-angan bisa diwisuda bareng. Eh... enggak tahunya kesampaian," kata Budi, dosen Prodi Teknik Lingkungan Undip ini.
Budi mengaku sangat mengagumi sosok sang ibu yang sangat bersemangat menyelesaikan pendidikan meski kondisi fisik menghambat aktivitasnya. (X-5)