Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIDAKSIAPAN mental menjadi penyebab tingginya angka perceraian di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Ketidaksiapan itu yang membuat akhirnya pasangan suami istri tidak bisa mengatasi berbagai masalah di rumah tangga, termasuk masalah ekonomi.
Humas Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Indrmayu, Engkun Kurniati, menjelaskan jika sepanjang 2019 lalu jumlah kasus perceraian yang
diajukan mencapai 9.822 kasus.
''Dari jumlah tersebut, pengajuan yang diputuskan oleh hakim sudah mencapai 9.801 kasus,'' ungkap Engkun, kemarin.
Dari 9.801 kasus perceraian yang diputus sepanjang 2019 itu, sebanyak 6.046 kasus merupakan cerai gugat atau yang diajukan pihak
istri. Sedangkan sisanya yang mencapai 2.301 kasus, merupakan cerai talak atau yang diajukan pihak suami.
Diakui Engkun, kasus perceraian tersebut mengalami peningkan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2018 lalu, jumlah pengajuan
perceraian di Kabupaten Indramayu tercatat mencapai 8.681 kasus.
Dari jumlah tersebut, perceraian yang diputus oleh majelis hakim sebanyak 7.776 kasus. Sebagian besar pengajuan perceraian menurut Engkun dikarenakan alasan ekonomi.
''Namun jika dirunut ke akar persoalannya, sebenarnya lebih karena ketidaksiapan mental pasutri tersebut,'' ungkap Engkun.
Ketidaksiapan mental tersebut yang menyebabkan pasangan suami istri tidak siap menghadapi berbagai permasalahan yang ada di dalam rumah tangga, termasuk masalah ekonomi. Keputusan bercerai akhirnya diambil mereka.
''Ketidaksiapan berumah tangga salah satunya karena faktor usia yang masih muda,'' ungkap Engkun.
Mereka sudah berhasrat untuk segera menikah tanpa memikirkan bagaiaman rumah tangga itu dibangun. Jadi mereka lebih berfikir bagaimana nanti bukan nanti bagaimana.
Terpisah, Plt Bupati Indramayu, Taufik Hidayat, mengaku sudah mendapatkan laporan mengenai tingginya kasus perceraian warganya.
''Kami tentu sangat prihatin. Kita harus mulai mengurai satu persatu faktor penyebabnya dan memberikan solusi untuk mengatasinya,'' ungkap Taufik. (OL-11)
Dokter spesialis kulit menyarankan perawatan kulit dimulai 6 bulan sebelum pernikahan demi hasil maksimal dan menghindari risiko iritasi menjelang hari H.
Idealnya, calon pengantin sudah mulai melakukan rangkaian treatment setidaknya enam bulan sebelum hari pernikahan.
Menyambut momen bahagia, Dermalogia pun merancang program perawatan yang dipersonalisasi, menyesuaikan kebutuhan kulit dan tubuh Syifa.
Pesta pernikahan di Purwakarta berubah jadi tragedi. Tuan rumah meninggal dunia usai diduga dianiaya sekelompok preman, polisi buru pelaku.
Peneliti IPB University mengungkap faktor penyebab penurunan angka pernikahan di Indonesia, mulai dari ekonomi hingga tren "Marriage is Scary".
Salah satu hal yang paling mendesak untuk ditinjau ulang ialah penggunaan diksi dalam teks akad.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved