DI antara waktu kuliah, banyak kompetisi ia kejar, begitu pula peluang bisnis dan pekerjaan.
Ia mengaku ambisius, bukan cuma untuk pencapaian diri, tapi juga berkontribusi buat sekitarnya.
Bagaimana ceritanya kamu jadi duta pendidikan dunia mewakili Indonesia? Aku mendaftar pada Desember 2013, memasukkan aplikasi dan akhirnya terpilih dari 6.000 proposal yang masuk.
Setelah melalui berbagai seleksi, aku mengikuti berbagai program, termasuk rapat dan setiap tiga bulan melakukan berbagai kegiatan terkait pendidikan.
Tema yang aku usung, Uniting as one, mulai mengajar, bakti sosial, serta menghadiri dan berbicara di berbagai seminar.
Sejak 2014 aku mendapat gelar itu selama satu tahun, nama resminya Global Youth Ambassador of A World at School United Nation.
Masalah pendidikan di Indonesia yang aku laporkan, masuk ke laporan tahunan UNESCO yang berjudul The First Global Youth Monitoring Report serta website A World at School.
Masalah pendidikan Indonesia yang kamu laporkan? Pada 14 Februari kemarin, aku mengunjungi salah satu desa di Bekasi, Jawa Barat. D
i situ, aku lihat masih kurang sekali infrastrukturnya, bangunan sekolah rusak, daerah sekitarnya bau karena dekat dengan tempat pembuangan sampah akhir.
Ruang guru sama perpustakaan jadi satu, bahkan bukunya pun sudah lama dan warnanya hitam putih.
Padahal, buku berwarna akan menarik anak membaca.
Satu lagi permasalahan pendidikan yang tidak kalah krusial di Indonesia ialah perempuan muda yang menikah muda.
Permasalahan ini sering kita lihat di desa-desa, di umur 16 tahun sudah menikah, 17 tahun sudah punya anak.
Padahal, di usia belia, waktu mereka harusnya digunakan untuk menempuh pendidikan.
Menurutku, nikah di usia sangat muda bisa jadi masalah besar.
Apalagi, suaminya hanya beda beberapa tahun.
Konflik rumah tangga sudah pasti terjadi.
Ada kemungkinan terjadi kekerasan fisik sehingga akhirnya cerai.
Bagaimana kamu menilai upaya pemerintah menangani pendidikan? Pendidikan mengalami kemajuan, setiap tahun selalu ada program-program baru yang bertujuan membantu anak-anak tidak putus sekolah.
Hanya saja, masih perlu koordinasi intens antara pemerintah pusat dan daerah jadi ke depannya tidak ada lagi penyelewengan dana.
Kalau bisa, pemerintah pusat bisa memberikan jaminan 100% akurat bahwa tiap anak-anak di Indonesia mulai Sabang sampai Merauke wajib 12 tahun belajar dari SD hingga SMA.
Aku percaya, semakin banyak pemuda-pemudi Indonesia yang terdidik, semakin terbuka peluang negara ini untuk maju.
Bangsa yang maju ditentukan berapa banyak warga yang mengenyam pendidikan tinggi.
Soal ujian nasional? Penghapusan ujian nasional sebagai acuan kelulusan seorang siswa, aku setuju sekali.
Sebelumnya, ketika jadi penentu kelulusan, banyak siswa yang menanggung banyak akibat gara-gara dinyatakan tidak lulus ujian nasional.
Padahal, belum tentu ia tidak pandai.
Ini karena stigma yang bikin tekanan tersendiri.
Hasil ujian nasional untuk pemetaan itu sudah tepat, karena kualitas yang masih belum merata, dan infrastruktur yang masih buruk di pedesaan.
Kabarnya punya usaha juga ya? Aku punya usaha clothing line, bikin brand sendiri,
www.depopscloth.com.
Aku mulai usaha ini pada 2012, modal utama dari usaha ini aku dapatkan ketika aku menjadi salah satu pemenang lomba proposal bisnis Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) Kementerian UKM dan Koperasi.
Pada 2013 sampai 2014, brand aku ada di sejumlah toko di Bali dan Jakarta.
Namun, tahun ini aku lebih milih jualan online, di salah satu situs perdagangan fesyen terbesar di Asia.
Minat terbesar kamu di bidang sosial atau bisnis? Aku ingin seimbang karena aku sekolah di fakultas ekonomi dan bisnis, tentunya passion di bisnis memang besar banget.
Bahkan sekarang aku juga lagi mencoba bisnis agrikultur, tapi inti bisnisnya mengombinasikan model bisnis sosial dengan ekologi.
Namun, aku juga passion banget untuk bisa bantu banyak orang, terutama di sektor pendidikan.
Dunia pendidikan, bisnis, lomba-lomba, wah banyak juga ya pencapaian kamu? Iya, aku juga berjuang untuk dapat beasiswa Supersemar dan sempat juga jadi finalis Abang None Jakarta Barat.
Sejak SMP, aku tipe orang jika sudah ingin suatu hal, harus bisa mencapainya.
Aku rela mengorbankan waktu main demi mencapai tujuan.
Sekarang pun sama, aku hampir enggak punya waktu untuk libur di hari kerja aku kuliah, mengurus bisnis dan melaksanakan berbagai aktivitas, termasuk sebagai tenaga ahli penelitian dan pengembangan Jakarta Smart City, program unggulan Pak Gubernur.
Sabtu dan Minggu aku gunakan untuk menulis buku dan les bahasa Prancis.
Tapi aku percaya, kerja keras akan dibayar lunas oleh keberhasilan mencapai tujuan.
Sebenarnya cita-cita terbesarmu apa? Aku pengen jadi Sekretaris Jenderal PBB, jadi pengusaha sukses, yang bisa mempekerjakan banyak orang serta mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak jalanan serta mereka yang tinggal di daerah-daerah terpencil. Banyak ya?
Harapan bagi Indonesia? Enggak muluk-muluk, aku cuma pengen lihat Indonesia yang maju, ekonomi stabil.
Kurangin gap yang besar antara si kaya dan si miskin.
Makanya aku pengen ikut membangun perekonomian dengan cara menjadi pengusaha.
Dengan berbisnis, kita tidak hanya mendapatkan keuntungan untuk kita sendiri, ketika kita mempekerjakan karyawan, kita tidak hanya membantu kehidupan dia, tapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya. (M-1)
BIODATA Nama : Dea Salsabila Amira Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 6 Agustus 1995 Pendidikan : Manajemen Pemasaran 2012, Universitas Mercu Buana Prestasi : - Finalis Covergirl Anekayess 2010 - Pemenang lomba proposal bisnis Gerakan Kewirausahaan Nasional Kementerian UKM & Koperasi 2012 - Wakil 2 Putri Bunga DKI Jakarta 2013 - Duta Muda Jakarta Sister City 2013 mewakili Beijing Youth Federation, - Finalis Abang None Jakarta Barat 2014 - Merry Riana Campus Ambassador 2014 - Global Youth Ambassador of A World at School United Nation sebagai duta pendidikan dunia mewakili Indonesia - Peraih beasiswa Supersemar Aktivitas Lain : - Bisnis clothing line edepopdcloth 2012 - Founder Pergerakan Sosial United As One - Bekerja menjadi Jakarta Smart City bagian penelitian dan pengembangan sebagai sekretaris. - Training di US Goverment menjadi Social Entrepreneurs - Mengembangkan bisnis di bidang agrikultur