Satu Panggung, Banyak Negara

Okta Sanprista Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
19/4/2015 00:00
Satu Panggung, Banyak Negara
(MI/Angga Yuniar)
BENGAWAN Solo karya Gesang serta Let it Go, soundtrack film animasi Frozen itu apik dimainkan dengan berbagai peranti musik angklung.

Lalu, ada Tari Saman asal Aceh yang memesona dengan kekompakan gerakan dan nyanyiannya.

Tepuk tangan meriah menjadi balasan setimpal buat anak-anak muda yang menampilkannya.

Penampilan kedua ikon dunia musik dan tari tradisi Indonesia itu mengundang tepuk tangan meriah.

Angklung dan Saman menjadi wakil Indonesia pada penyelenggaraan International Festival of Language and Culture (IFLC) 2015, Sabtu (11/04).

Acara yang digagas Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (Pasiad) Indonesia bekerja sama dengan Universitas Paramadina dan Yayasan Yenbu Indonesia ini menghadirkan berbagai pertunjukan tarian dan nyanyi dari berbagai belahan dunia.

Delegasinya, 100 remaja SMP dan SMA dari Jerman, Albania, Australia, Filipina, Kamboja, Kazakstan, Malaysia, Tunisia, Ukraina, Georgia, Maldives, Maroko, Nepal, Mongolia, Ethiopia, Yordania, Kamboja, dan Indonesia.

Mereka menampilkan atraksi kebanggaan negerinya masing-masing.

Di Indonesia, salah satu aktivitas Pasiad ialah mengelola berbagai sekolah.

Salah satu penari Saman, Alfiona Rozana Ilma, 14, merasa gugupnya hilang ketika mendapat tepuk tangan meriah para penonton.

Walaupun mereka harus tampil tanpa syekh, sang pemimpin tarian, ternyata mereka bisa tetap maksimal.

"Banyak peserta dari negara lain juga menyemangati kita," ujar Fiona.

Penampil dari Jerman
Atraksi tak kalah seru ditampilkan Alena Milojic, 16, asal Jerman. Mengenakan gaun tradisional Jerman, Alena tampil di panggung menyanyikan lagu populer band asal Jerman, Silbermond, berjudul Krieger des Lichts atau Fighter of the Light.

Suara merdu dan kostumnya yang menarik membuat banyak penonton terpesona.

"Begitu banyak budaya di bumi ini dan dengan mengikuti acara ini, saya jadi tahu berbagai budaya. Luar biasa karena bisa membuka pikiran dan perasaan untuk hal-hal baru. Kita juga jadi bisa belajar banyak hal dari berbagai budaya. Ini yang menurut saya penting," kata Alena.

Banyak warna
Pertunjukan meriah yang kemudian bermuara pada empati pada aneka budaya, kata Tegar Rezavie Ramadhan, Humas IFLC, memang jadi tujuan acara ini.

"Semua negara memiliki warnanya masing-masing, keindahan, kearifan lokal masing-masing, tapi acara ini bisa menyatukan dan semoga bisa membuat dunia jadi lebih baik. Mari menciptakan dunia yang respect each other dan damai," kata Tegar.

IFLC yang digelar tahunan, kata Tegar, berawal dari Olimpiade Bahasa Turki, diselenggarakan di Istanbul, Turki.

Namun, setelah 12 kali diadakan, barulah mereka berinisiatif tidak hanya menampilkan kemampuan berbahasa Turki para peserta, tapi juga menampilkan budaya berbagai negara.

Judul acara diganti menjadi IFLC dan untuk pertama kalinya diadakan di luar Turki. Selain Indonesia yang pertama kali menjadi tuan rumah acara, IFLC pernah diadakan di beberapa negara, seperti Prancis, Jerman, Romania, Afrika Selatan, Kirgistan, Tanzania, Mozambik, Albania, Filipina, dan Thailand.

"Puncak tahun ini akan digelar di Washington DC, Amerika Serikat," kata Tegar.

Makin semangat ke Turki

Arif Rahmantyo, 20, salah satu pengunjung dari Universitas Islam Indonesia (UIN) Jakarta, menonton aneka ekspresi kebudayaan, terutama Turki, menambah semangatnya untuk jadi warga global.

"Saya memang ingin melanjutkan kuliah ke Turki. Saya makin termotivasi, terus belajar dan mengejar mimpi ke Turki," kata Arif.

Komentar serupa juga diucapkan Pramauludthy Trinanda, 17, siswi kelas 11 Kharisma Bangsa Billingual Boarding School.

"Kultur dari seluruh dunia dalam sehari, wow!" katanya.

Agenda memperkenalkan keragaman itu, juga diapresiasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.

"Ini pembelajaran antarbudaya, memberi kesempatan anak muda menunjukkan bakat. Ini merupakan strategi yang baik untuk memperkenalkan pendidikan keberagaman budaya," kata Anies.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diputar di awal acara, menandakan semangat anak-anak muda negeri ini jadi warga global. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya