Lis Pratiwi Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran
19/4/2015 00:00
(DOK GPV)
Perkemahan pemuda ini mewajibkan peserta membuat rencana aksi agar dampak positif menyebar di sekitarnya.
Mari belajar dari Walt Disney, sosok yang selalu berpikir positif, bahagia, dan memiliki target jelas untuk dicapai.
Ia menyebarkan semangat serupa dalam bisnisnya sehingga film berlabel Disney bukan cuma meledak, melainkan juga menjadi pembicaraan.
Setelah rampung dengan diskusi tentang Disney, sekarang giliran kita mengobrol perdamaian.
Tema besarnya One family under god.
"Saya setuju kesetaraan menciptakan perdamaian. Walaupun kita tidak bisa menyetarakan semua hal, kita bisa memproporsionalkan kesetaraan dengan adil dan bijak," kata Ryan, mahasiswa matematika Institut Pertanian Bogor (IPB).
Ryan ialah salah satu peserta Global Peace Volunteer (GPV) Camp yang digelar di Bogor.
Program pengembangan pemuda yang berada dalam naungan Global Peace Foundation (GPF) Indonesia itu mempromosikan perdamaian serta kesetaraan yang melampaui perbedaan agama, gender, dan ras.
Acara di Bogor pada 6-8 Maret itu dinamai GPV Camp 1.24, selanjutnya dilanjutkan di Surabaya pada 13-15 Maret, dan GPV Camp 1.26 pada 20-22 Maret di Bangka Selatan.
"Kami berharap partisipasi aktif para peserta. Di setiap rangkaian acara kami kumpulkan 35 pemuda dari berbagai provinsi. Kegiatan itu dilakukan selama tiga hari dua malam.
Mereka bertukar pikiran dan belajar melalui pengalaman agar lebih mudah diterapkan dalam kehidupan peserta selanjutnya," terang Shintya Rahmi Utami, General Manager GPF Indonesia. Inisiatif peserta sebelumnya Setiap acara GPV Camp, kata Sintya, merupakan inisiatif alumnus GPV Camp sebelumnya sehingga tidak ada jadwal pasti.
"Di setiap perkemahan, peserta dibekali kekuatan motivasi, pantang menyerah, dan hidup untuk kebaikan lebih besar," kata Shintya.
Sesi penayangan video Ryan's Well misalnya.
Ryan ialah anak 7 tahun yang mendorong terbentuknya sumber mata air bersih untuk anak-anak di Afrika.
Video itu mengajarkan tidak ada hal yang mustahil untuk diwujudkan jika ada tekad dan kerja keras.
"Videonya menginspirasi gerakan sosial bisa dibuat siapa pun tanpa mengenal usia. Ryan mengajarkan kepedulian bisa membuat perubahan besar meskipun setiap langkahnya harus dijalani keras," kata Ryan.
Ada pula sesi berbagi, yaitu wahana pertemuan bagi para pemuda antarwilayah dengan latar belakang yang beragam.
Setiap peserta saling bercerita mengenai masalah pribadi, kesuksesan, dan perjalanan hidup dengan seorang peserta lain.
"Bagi saya, sesi heart to heart ialah yang paling berkesan. Di sini, kita bisa lihat seberapa percaya seseorang membagi cerita hidup mereka, istilahnya seberapa percaya seseorang memberi amanah pada orang lain. Dapat mengetahui latar belakang orang-orang di sekitar yang baru pertama kali bertemu. Itu juga memberi inspirasi," tambah Ryan.
Di hari ketiga, peserta secara berkelompok diminta terjun langsung ke masyarakat untuk melakukan pelayanan komunitas.
Di acara tersebut banyak kegiatan kelompok yang memang disengaja untuk meningkatkan kerja tim karena mimpi sebesar apa pun dapat terlaksana jika menjadi mimpi bersama! Dua pekan langsung bergabung Dari perkemahan di Bangka Belitung, ada kisah Amalia Nina Purwari yang jadi panitia GPV Camp di tanah kelahirannya.
"Saya jadi lebih sadar kewajiban sebagai pemuda lokal untuk membangun daerah lebih baik," kata Nina yang bergabung jadi panitia setelah dua pekan sebelumnya jadi peserta.
"Saya ingin berkontribusi untuk Pulau Bangka dengan jadi salah satu panitia sebab di sini sumber daya manusia, terutama pemuda, masih kurang kesadaran membangun daerah. Dengan GPV Camp, kita bisa menambah relasi, wawasan, dan wadah meningkatkan kreativitas serta keterampilan lainnya," jelas mahasiswa Universitas Bangka Belitung itu.
Hal serupa dikatakan Muhammad Robby Sahputra, Ketua GPV Camp Bangka.
"Saya bawa GPV Camp ke Bangka, yaitu untuk memperkenalkan perkemahan itu, termasuk ke Pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Untuk membangun Indonesia lebih baik, kita harus membangun daerah yang memiliki kearifan lokal masing-masing," terang Robby, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Al-Azhar Indonesia itu.
Perpustakaan mimpi Kerja keras para panitia itu terbayar. Yuzan, salah satu peserta GPV Camp Bangka dari Universitas Bangka Belitung, mengaku cara pandangnya terhadap peran pemuda berubah drastis.
"Yang terpenting, saya juga jadi makin terbuka terhadap perbedaan. Program seperti itu jarang di Bangka. Jadi, mestinya lebih banyak program seperti itu ya," ujar Yuzan.
Rencana aksi ialah salah satu program wajib di perkemahan yang disusun Yuzan.
"Saya akan buat Library of Dream untuk pemberdayaan pemuda," kata Yuzan.
Perubahan positif memang mesti disebarkan.
Tindakan nyata harus dilakukan agar kenangan tak hanya berwujud sertifikat kegiatan. (M-1)