Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAKNYA tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dihukum mati di Arab Saudi memunculkan desakan dari sejumlah kalangan agar pengiriman TKI ke negara tersebut dihentikan.
Direktur Eksekutif Migrant Institute Adi Candra Utama, salah satunya, mendesak pemerintah untuk menghentikan pengiriman TKI ke Arab Saudi.
"Pemerintahan Presiden Joko Widodo harus melakukan tindakan dan langkah diplomatik yang tegas. Pemerintah Indonesia harus segera menghentikan secara permanen pengiriman buruh migran sektor domestik ke Arab Saudi," kata Adi melalui siaran persnya, kemarin.
Menurut dia, hal itu perlu ditempuh pemerintah karena kasus eksekusi mati terhadap buruh migran Indonesia di Arab Saudi sering terjadi.
Dia juga mengharapkan pemerintah perlu mempertimbangkan penempatan buruh migran Indonesia yang kurang instrumen perlindungan.
"Pemerintah tidak selayaknya menempatkan buruh migran ke negara yang minim instrumen perlindungan kepada pekerja migran," tegasnya.
Apalagi, Arab Saudi termasuk negara yang sampai saat ini tidak meratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 tentang Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya.
Kasus Karni binti Merdi dan Siti Zaenab merupakan contoh tidak menguntungkan terkait dengan hukum di Arab Saudi bagi buruh migran Indonesia.
Desakan serupa juga dikemukakan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Banten.
Dalam keterangan tertulisnya, Direktur LBH APIK Banten Mumtahanah meminta Presiden melayangkan protes keras dan terus melakukan upaya pencegahan dan pembebasan buruh migran dari hukuman mati.
"Presiden harus membuat langkah-langkah lebih komprehensif, strategis, dan berkelanjutan," tegasnya.
Setelah Siti Zaenab, warga Bangkalan, Jawa Timur, yang dieksekusi mati pada Selasa (14/4) siang, menyusul Karni warga Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dieksekusi pada Kamis (16/4).
Keluarga korban pun baru mengetahui kematian mereka lewat media massa. Merdi dan Tarsi, kakek dan nenek Karni, mengaku hanya bisa pasrah saat mengetahui cucu mereka sudah dieksekusi mati.
Darmin, suami Karni, hanya membisu dan air matanya menetes saat mendengar kabar kematian Karni yang disampaikan M Sadri, staf Kemenlu, yang memberitahukan kabar buruk itu di kediamannya, Jumat (17/4).
Rasti, kakak Karni, menyebut adiknya tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah.
"Ya mau apa lagi? Kami hanya bisa pasrah," ujarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved