Orang Rimba Siap Menetap

Henri Salomo Siagian
17/4/2015 00:00
Orang Rimba Siap Menetap
(Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kanan) dan Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg mengunjungi suku Anak Dalam--Dok. Kementerian LHK)
SEBAGIAN orang rimba atau suku Anak Dalam menyatakan siap untuk meninggalkan pola hidup nomaden. Hal itu dikemukakan Madi, anggota orang rimba Kelompok Badai, saat ditemui di lokasi konsesi PT Malaka Agro Perkasa di Kabupaten Bungo, Jambi, pada Rabu (15/4).

''Sekarang memang masih berpindah karena ketiadaan lahan. Kalau ada yang pasti, kami pasti menetap,'' ujarnya dalam bahasa Rimba yang diterjemahkan oleh anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Kristiawan. Pernyataan Madi itu diiringi seruan `au au` yang artinya `iya, iya` oleh orang rimba lainnya.

Budaya berpindah atau yang disebut <>melangun dilakukan pada saat ada anggota mereka yang meninggal dunia. ''Kami melangun hanya sebentar, cuma untuk menghilangkan rasa sedih.''

Melangun merupakan budaya orang rimba dengan meninggalkan jenazah di tempat tinggal mereka.

Saat ditanyakan, kepastian seperti apa yang diminta, Madi menjelaskan semacam sertifikasi atas lahan yang mereka gunakan. ''Pernah ada kejadian kami diusir dari lahan yang diberikan sebagai konsesi dari perusahaan.''

Ia berharap sertifikasi yang diberikan bukan berstatus hak miliki (SMH). Alasannya, mereka tidak ingin ada peluang menjual lahan oleh orang yang menguasai sertifikat. ''Kami hanya ingin pemerintah menjamin lahan sehingga bisa menghidupi anak cucu kami."

Hal lain diungkapkan Heri, ketua rombongan orang rimba ketika bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dan Perdana Menteri (PM) Norwegia Erna Solberg. Ia mengungkapkan sejumlah kendala yang kerap mereka temui dalam `menyambung hidup`, seperti kebiasaan berburu babi hutan yang terkendala harus melintasi kawasan desa.

''Kami diprotes karena membawa babi dengan melewati desa.''

Mereka juga sulit mendapatkan rotan karena hutan yang ada sudah menjadi perkebunan sawit dan pertambangan.

Solusi
Setelah mendengar penjelasan itu, PM Norwegia Erna Solberg mengaku yakin Indonesia mencari solusi yang tepat untuk kelangsungan hidup dan masa depan orang rimba di Jambi.

Solberg mengutarakan upaya menjaga lingkungan hutan tetap lestari sangat penting bagi kehidupan masa depan. Tidak hanya buat orang rimba, tetapi juga buat segenap manusia di seluruh pelosok dunia. Karena itu, ia mengajak para pelaku usaha untuk bersama-sama menjaga lingkungan hutan.

Di sisi lain, Menteri LHK Siti Nurbaya berjanji mencarikan solusi terbaik bagi mereka. Solusi itu, akan mempertimbangkan berbagai aspek dan menyesuaikan dengan karakteristik orang rimba. ''Yang pasti Presiden Joko Widodo telah menegaskan hutan ialah untuk kesejahteraan rakyat. Karena itu, kami akan membuat formulasi untuk kesejahteraan suku Anak Dalam juga."

Siti juga mengutarakan dalam pertemuan dengan PM Norwegia, ada sejumlah kerja sama. Pertama, Indonesia dan Norwegia sepakat melanjutkan kerja sama REDD+ yang sudah dimulai sejak 2010. Kedua, Norwegia dapat menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam pemberantasan <>illegal fishing. Ketiga, kerja sama di bidang <>hydro power.

Keempat, kerja sama triangular. Seperti membiayai pelatihan 25 perempuan polisi dan 12 guru di Jakarta dan Bandung. (SL/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya