Manfaatkan Teknologi untuk Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Mediaindonesia.com
20/9/2019 13:20
Manfaatkan Teknologi untuk Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Kirana Pritasari.(Antara)

PEMERINTAH Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, melalui Dinas Kesehatan melakukan terobosan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, gizi buruk, serta stunting. Kepala Dinas Kesehatan Nganjuk, Achmad Noeroel Cholis, mengatakan pihaknya mengembangkan aplikasi “OJO STUNTING”.

"Aplikasi ini diperuntukkan bagi para ibu muda yang melek teknologi informasi, terutama yang ingin mengetahui risiko kehamilan dan anak secara dini yang berpotensi lahir anak stunting," kata Achmad Noeroel dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia, Jumat (20/9).

Baca juga:  Jalur Sepeda Berada di Ruas Jalan Ganjil-Genap Jakarta

Terobosan ini penting dilakukan mengingat pada 2009 Kabupaten Nganjuk mendapat peringkat pertama Angka Kematian Bayi (AKB). Lalu pada 2012 tercatat sebanyak 25 ibu hamil dan 291 bayi meninggal. Tahun 2013 sebanyak 44 bayi stunting.

Sebelumnya dalam Seminar Nasional III Pra-Munas KAGAMA bertajuk Kesehatan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Gedung Eks DPRD Sulawesi Utara, Kamis (19/9), Achmad membeberkan bahwa pihaknya melakukan terobosan dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Pihaknya melakukan perencanaan dengan menggunakan data analisis baik secara elektronik maupun laporan bulanan. Peran dan tanggung jawab di masing-masing level tingkatan sesuai tupoksinya, meliputi OPD, Kecamatan dan Desa, juga dikawal dengan baik.

"Kita membuat gerakan dalam pemberdayaan masyarakat untuk membangun masyarakat dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi, gizi buruk serta stunting," paparnya.

Selain inovasi teknologi, pihaknya juga gencar menggelar pelatihan dan pendampingan di masyarakat. Berbagai inovasi dan konvergensi lintas sektor tersebut pun membuahkan hasil.

Angka kematian ibu dan bayi mengalami penurunan dari 17 dan 212 pada 2010, menjadi 7 dan 57 pada 2018. "Status Gizi balita di Kabupaten Nganjuk berdasarkan survei PSG juga mengalami penurunan. Pada 2013 balita stunting sebanyak 34,3%, sedangkan pada 2018 diketahui hanya sebanyak 16,1%," kata Achmad.

Berkat itu pula, kata Achmad, Kabupaten Nganjuk memperoleh banyak penghargaan, antara lain penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) tahun 2018 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, dan penghargaan Puskesmas Patianrowo tahun 2019 sebagai Puskesmas Ramah Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

Hal senada juga disampaikan oleh Dirjen Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Kemenkes RI Kirana Pritasari. Pihaknya sangat berharap para pimpinan daerah di kabupaten dan kota melakukan inovasi seperti Kabupaten Nganjuk. "Kami dorong pemerintah kabupaten dan kota yang lain bisa melakukan itu," pungkas alumnus Fakultas Kedokteran UGM itu. (*/A-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya