Nicholas Saputra: Optimistis Persoalan Gizi Teratasi

Fathurrozak
28/8/2019 12:55
Nicholas Saputra: Optimistis Persoalan Gizi Teratasi
Nicholas Saputra(DOK MI/ROMMY PUJIANTO)

AKTOR Nicholas Saputra mengungkapkan bahwa pemerataan gizi saat ini sangatlah penting bagi masyarakat, khususnya yang hidup di kawasan Indonesia timur.

"Indonesia itu sangat luas. Masih banyak yang tidak seberuntung kita. Saya pikir banyak hal yang dapat kita lakukan untuk saudara-saudara kita di Indonesia timur dengan memastikan sumber daya manusianya, agar ke depannya menjadi semakin lebih baik. Melalui aksi-aksi kecil yang jika dilakukan secara masif, pasti efeknya akan menjadi lebih baik dan besar," tutur Nicholas saat ditemui pekan lalu di Mall Gandaria City, Kebayoran Lama, Jakarta.

Pemeran utama pria terbaik versi Festival Film Indonesia 2005 itu merujuk pada hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki jumlah kekurangan gizi terbanyak di Indonesia atau mencapai 42,6%. Adapun proporsi gizi buruk dan gizi kurangnya sendiri mencapai kurang lebih 17,7%.

Aktor Indonesia berdarah Jawa-Jerman itu juga mengatakan bahwa perbaikan mutu gizi merupakan syarat mutlak bagi pembangunan bangsa dan negara. Ia yang selama ini sering berkunjung ke beberapa daerah di NTT kerap melihat kekontrasan antara sektor pariwisata dan SDM.

NTT dikenal dengan sumber daya alamnya yang indah, sehingga menjadi tujuan banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Namun di sisi lain, jumlah anak NTT yang kekurangan gizi juga cukup tinggi.

Persoalan kekurangan gizi atau malnutrisi yang paling memprihatinkan sekaligus menojol di NTT, lanjut Nicholas, dapat dilihat dari kondisi anak-anak yang hidup di sana, yang memiliki bobot yang tak sesuai dengan usianya.

"Kita bisa melihat misalnya volume pergelangan kaki, tangan, dan lain-lain. Itu yang biasanya juga menjadi tolok ukur oleh puskesmas setempat bahwa anak tersebut kekurangan gizi," tutur aktor yang populer dengan sebutan Rangga itu.

Edukasi gizi

Penyebab adanya malnutrisi itu sendiri, menurut Nicholas, bisa bermacam-macam. Tetapi, khusus di Indonesia timur, persoalan yang kerap terjadi berkenaan dengan masalah edukasi tentang gizi.

"Sumber daya yang ada sebenarnya bisa dikatakan cukup. Tapi kembali lagi, mungkin edukasinya yang kurang. Masalah ini sebenarnya tidak hanya terjadi di daerah seperti Indonesia Timur. Beberapa kasus di ibu kota juga tampak demikian, orang tua kurang mendapatkan edukasi masalah gizi sehingga anak-anak yang menerima dampaknya. Akses gizi ada, tapi edukasi yang menjadi masalah utamanya," imbuhnya.

Persoalan gizi, lanjut Nicholas, bukan hanya masalah hari ini. Hal tersebut merupakan persoalan fundamental dan jangka panjang, yang ampaknya akan terasa dalam 5 hingga 10 ke depan. Menurutnya, membangun dan mengembangkan suatu daerah dimulai dengan masalah utama yaitu gizi masyarakat.

Meski demikian, Nicholas optimistis jika masalah gizi itu dapat segera teratasi. Sebab, masyakarat Indonesia memiliki modal yang cukup berarti yaitu sifat murah hati. Masyarakat di Indonesia, baginya, selalu memiliki hasrat untuk berbuat sesuatu atau membantu agar teman, saudara, maupun satu sama lainnya sejahtera. Sifat itu menjadi salah satu modal yang cukup baik untuk melaksanakan berbagai aksi mulai dari yang skalanya besar hingga kecil.

Bagi Nicholas sendiri yang kerap turun aksi di daerah terpencil menganggap berbagi ialah salah satu bentuk ucapan syukur. "Saya mendapat kepuasan batin tersendiri ketika didoakan orang-orang yang saya kunjungi," ujarnya. (*/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya