Dampingi Anak Intip Jendela Dunia

MI/Hera Khaerani
12/4/2015 00:00
Dampingi Anak Intip Jendela Dunia
(MI/M Irfan)
DI salah satu sudut toko buku Gramedia Central Park, Jakarta, Felicia Clara, 9, tampak asyik sendiri.  Dengan buku di pangkuannya, dia seolah terlempar ke dalam dunia yang dikisahkan. Miss Jinjing Cewek Kaya Ceria, itulah judul buku yang dibacanya. Buku anak yang mengajarkan pantang boros menggunakan uang. Minggu (5/4) itu, dia sebenarnya datang ke toko buku di pusat perbelanjaan itu bersama ayah, adik, dan tantenya. Namun, ketika sudah menemukan buku yang ingin dibacanya, Felicia leluasa menikmati hobinya itu sendirian, tanpa perlu diawasi orangtuanya. Ia tidak sendiri, di sekelilingnya ada anak perempuan yang duduk di kelas 4 sekolah dasar. Sebagian anteng di dekat rak komik. Ada juga yang mengambil buku komik ilmu pengetahuan, lalu duduk menepi di deretan rak kamus atau buku lain yang lebih sepi dari pengunjung, biar nyaman membacanya.

Meski masih belia, Felicia mengaku sudah biasa memilih bukunya sendiri. "Aku pernah nemu buku yang pas dibaca ternyata terlalu romantis, tidak terlalu seru. Kalau nemu yang begitu, aku cari buku yang lain," akunya polos. Ayahnya, yang ditemui saat menemani adik Felicia, mengaku dia memang membebaskan anaknya saat memilih buku. Dia percaya anaknya paham buku yang sesuai untuk seusianya. "Itu urusan ibunya," katanya singkat soal peran orangtua membekali pemahaman memilih bacaan yang sesuai. Hellen, 32, memilih pola pengawasan lain untuk putrinya, Giselle, 6, yang masih di taman kanak-kanak. Dia selalu memilihkan bukunya, terutama terkait pelajaran. Dia mempelajari semuanya lalu ajarkan ke putrinya, tidak sepenuhnya mengandalkan guru di sekolah.

"Setiap ke mal yang ada toko bukunya, kita pasti mampir. Biar dia suka baca dan belajar," aku perempuan yang suka membacakan dongeng sejak anaknya berusia 6 bulan. Pengawasan serupa juga dilakukan Hanny, 40, atas bacaan putrinya, Samantha, 9. Dia merasa lebih tenang karena selalu mengawasi buku apa yang dibaca putrinya yang hobi balet itu. Bahkan untuk pelajaran sekolah, dia pantang menggunakan jasa guru bimbingan belajar. Semua dilakukan sendiri di rumah. Berkat rutin mengawasi itu, dia menyadari belakangan ini kurang menyisipkan budi pekerti. "Seharusnya tidak cuma dongeng, tetapi harus ada maknanya," harapnya. Kemandirian Felicia untuk menakar laik atau tidaknya bacaan, mungkin paling ideal.

Namun, menurut psikolog Gisella Pratiwi, tantangan paling besar akan datang ketika anak beranjak remaja dan mengalami pubertas. Belakangan ini contohnya, ketika beredar buku berjudul Saatnya Aku Belajar Pacaran yang kontennya vulgar dan terlalu dewasa, wajar sekali orangtua cemas. "Remaja kebanyakan mungkin akan penasaran dan terus membaca," ujar Gisella soal kemungkinan yang terjadi bila remaja dihadapkan dengan bacaan tidak patut. Dia melanjutkan, sebenarnya dengan contoh bacaan yang tidak baik sekalipun, justru membuka kesempatan baik bagi orangtua untuk diskusi dengan anaknya. "Pacaran atau isu relasi intim merupakan salah satu hal yang dieksplorasi remaja dan membutuhkan bimbingan orangtua. Tugas orangtua ialah menggali pemahaman mereka tentang materi tersebut dan membimbing ke arah yang lebih positif. Jika sejak awal perkembangan anak dibekali nilai serta ada komunikasi yang terbuka dengan orangtua, secara umum tidak perlu khawatir karena anak sudah memiliki bekal mengenai nilai dan norma," lanjutnya.

Minat dan bakat
Jangan sepelekan kemampuan anak menyerap bacaan, nyatanya belakangan ini spektrum bacaan anak-anak semakin luas. Sebagaimana orang dewasa, anak pun sekarang cenderung memilih buku sesuai minat dan bakatnya, tak melulu apa yang tertata  di rak buku anak-anak. Adanya anak-anak di bagian buku IT juga bukan pemandangan yang aneh lagi, begitu pula dengan buku desain, memasak, dan kerajinan tangan. Zidan, 8, salah satunya, suka melahap buku-buku IT. Menurut ibunya, kebiasaan itu berawal sejak sempat diikutkan kursus coding. Karena menyadari keunggulan anaknya, dia ikutkan Zidan dalam kursus itu. Kemudian setelah berhenti dari kursus itu, putranya belajar autodidak dengan panduan buku. Memang ada kalanya panduan dari buku tidak bisa dipahami dan Zidan dilanda frustrasi. Anehnya keberadaan ibu di sisinya seperti memberi pasokan semangat untuk berjuang selesaikan apa yang sudah dimulainya.

Tidak mesti mengajari, kadang kehadiran secara fisik saja cukup. Psikolog Gisella menyatakan dukungan sosioemosional memang ampuh memotivasi anak ketika menyelesaikan tugas. Namun seiring anak bertambah usia, dia perlu dibantu lebih mandiri. Dia menyarankan, jika anak sudah memasuki masa usia sekolah (6 tahun ke atas), orangtua tidak perlu selalu mendampingi secara fisik, sebab dukungan sosioemosional tidak harus berupa kehadiran fisik, tetapi bisa dalam beragam bentuk. Misalnya, lebih banyak berdiskusi pada materi yang sulit bagi anak atau bahkan pada topik yang sudah anak kuasai, tetapi menarik baginya. "Intinya orangtua tetap mengawasi dan membimbing, tetapi dalam porsi tepat sehingga anak bisa memenuhi tugas perkembangannya, mandiri baik perilaku maupun emosional," simpulnya.

Kebanyakan anak usia sekolah membutuhkan rasa kemandirian sehingga baik jika orangtua mulai memberikan kepercayaan kepada anak untuk memilih bacaannya sendiri. Membaca memang ibarat membuka jendela dunia. Isi bacaan menstimulasi wawasan dan pemahaman kognitif atau pola berpikir, termasuk kemampuan menganalisis. Nah, jika kegiatan membaca juga diikuti dengan bimbingan dan hubungan yang hangat dari orangtua, kegiatan ini akan membawa nilai tambah, yaitu meningkatkan kualitas hubungan anak dan orangtuanya. "Kedua aspek ini, kognitif dan psikoemosional, akan berpengaruh jangka panjang pada anak," tukas Gisella. Nah, jangan sepelekan peran Anda mendampingi anak dalam mengintip jendela dunia ya, efeknya jangka panjang. Orangtua bisa 'tarik ulur', artinya fleksibel saja sesuai kondisi. Jika ada buku dirasa baik, boleh saja dipilihkan untuk anak. Begitu juga sebaliknya, anak bisa saja diberi kebebasan untuk memilih. Namun yang penting, orangtua tetap mengawasi konten apa yang dibaca anak dengan turut membacanya. Kebebasan memilih bisa disesuaikan dengan usia anak dan kemampuan anak.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya