TINGKAT kematian manusia akibat kanker terus meningkat di seluruh dunia.
Diperkirakan, pada 2025 terdapat 13 juta kasus kanker dan pada 2030 meningkat menjadi 22 juta.
"Dalam 20 tahun ke depan diperkirakan jumlah penderita kanker akan meningkat lima kali lipat," kata Profesor Zhang Feng, Wakil Presiden ASEAN Tumor Invasive Pertama, pada pembukaan The First ASEAN Academic Forum on Minimally Invasive Therapy for Tumor Treatment, di Nusa Dua, Bali, kemarin.
Dalam pertemuan yang diikuti ahli onkologi dan pasien itu diluncurkan pula dua metode pengobatan terbaru kanker, yakni metode penanaman biji partikel kombinasi radioterapi dan kemoterapi serta metode pengobatan multidisciplinary team (MDT) plus kombinasi sel imun bertarget.
Kedua metode tersebut bisa diterapkan pada semua jenis kanker, antara lain untuk mengobati kanker nasofaring (kanker di belakang hidung dan tepat di atas bagian belakang tenggorok).
Hadir dalam forum itu pakar kedua jenis metode pengobatan terbaru itu, yakni Profesor Li Xiaoshi, Profesor Peng Xiaochi, serta General Manager Modern Cancer Hospital Guangzhou Lin Shaohua.
Menurut Profesor Zhang, peningkatan kasus kanker saat ini disebabkan kebiasaan buruk manusia dan pencemaran lingkungan.
"Di ASEAN, kasus kanker juga semakin banyak. Sebabnya ialah kurangnya pengetahuan masyarakat. Mereka menganggap kanker sama dengan kematian. Hal itu menimbulkan ketakutan," kata dia.
Untuk itulah, lanjut kepala ahli kanker Tiongkok itu, forum ASEAN ini bisa menjembatani teknologi Tiongkok dan dokter-dokter di kawasan tersebut.
General Manager Modern Cancer Hospital Guangzhou Lin Shaohua mengatakan, sejak 2010 pihaknya sudah melaksanakan 21 kali konferensi musyawarah sedunia dan 7 kali konferensi internasional pengobatan kanker.
"Forum kali ini baru pertama kali untuk ASEAN. Kami berharap bisa memberi kontribusi untuk meningkatkan level pencegahan dan pengobatan tumor," kata Lin.
Seminar yang berlangsung hingga hari ini (11-12/4) itu juga menampilkan para pejuang kanker yang berhasil sembuh dari penyakit.