Jejak Radioaktif Fukushima Ditemukan di Perairan Kanada
MI
11/4/2015 00:00
(AP)
UNTUK pertama kalinya, zat radioaktif dari kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi pada 2011 dideteksi di per airan Amerika Utara.
Awal pekan ini, peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), Amerika Serikat, melaporkan temuan jejak zat cesium-134 dan cesium-137 di Semenanjung Ucluelet, Kanada.
Level kedua cesium tersebut, menurut peneliti, tergolong tidak berbahaya bagi manusia dan biota laut karena masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan secara internasional.
"Level kandungan yang terdeteksi di Ucluelet sangat rendah," kata Ken Buesseler, ahli kimia di WHOI.
Cesium-137--dijuluki 'warisan' yang tersisa di atmosfer hasil uji coba senjata nuklir--bisa ditemukan di seluruh perairan dunia karena masa pengurangan nilai aslinya (half-life) terbilang lama, yaitu 30 tahun. Artinya, butuh 30 tahun untuk setengah nilai dari cesium-137 lenyap.
Cesium-134 memiliki masa pengurangan nilai dua tahun.Dengan begitu, kata peneliti, cesium-134 yang dideteksi di laut dewasa ini tak lain dan tak bukan berasal dari Fukushima.
Secara umum, peneliti menilai kebocoran reaktor Fukushima melipatgandakan jumlah cesium-137 dan cesium-134 di laut. Cakupan kontaminasi dari sampel yang diambil di perairan Semenanjung Ucluelet mengandung cesium-134 di level 1,4 becquerels per meter kubik (Bp/m3). Untuk cesium137, aktivitasnya senilai 5,8 Bq/m3.
Level kontaminasi itu dianggap sebanding dengan temuan serupa di perairan lepas California Utara, AS, pada pertengahan 2014. "Jika seseorang berenang rutin selama 6 jam setiap hari di air yang mengandung level cesium dua kali lipat dari temuan di Ucluelet pun, tingkat radiasi yang diterima masih jauh lebih kecil dari yang didapat saat pindai gigi dengan sinar x," kata rilis WHOI.
Peer van de Rijk, kepala Badan Informasi Energi Dunia (WISE), memandang riset WHOI patut diperhatikan serius. "Meski level aktivitasnya rendah, bukan berarti tidak berbahaya. Radiasi tidak muncul tiba-tiba dan sangat sulit membuktikan penyakit tertentu disebabkan radiasi."
Peneliti mengatakan pemantauan tetap terus diperlukan untuk memastikan dampak lingkungan dari bencana Fukushima secara menyeluruh. "Setelah pelepasan kandungan radioaktif di laut terbesar dalam sejarah itu, kita harus terus mengawasi laut," ujar Buesseler, yang telah meneliti aktivitas radioaktif di perairan Pasifik sejak 2011.
Upaya itu, kata Buesseler, tidak mudah karena luasnya perairan serta kompleksnya arus laut dan pantai. "Kami membutuhkan bantuan masyarakat untuk melakukan sampling."
Tim pimpinan Buesseler, bernama Jaringan Inform, terdiri dari ilmuwan, organisasi nonpemerintah, dan relawan. Sejak 15 bulan terakhir, mereka telah mengumpulkan sampel di 60 titik di sepanjang perairan AS, pantai barat Kanada, dan Hawaii. Pada November 2014 ditemukan kandungan radioaktif Fukushima di 150 km perairan lepas California Utara. (whoi.edu/AFP/dw.de/Dhk/L-2)