DISTRIBUSI naskah ujian nasional (UN)tingkat SMA ternyata masih terkendala. Setidaknya terjadi di tiga provinsi, yaitu Sulawesi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Gorontalo yang hingga Rabu (8/4) mengalami kekurangan soal.
Perwakilan dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) ketiga provinsi tersebut mengungkapkan permasalahan itu saat konferensi via video bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, di Jakarta, kemarin.
Dari konferensi itu terungkap penyebab kendala tersebut terjadi karena masalah percetakan. Di Sulawesi Tengah, misalnya, pihak percetakan tidak bekerja seperti biasanya memaketkan soal berdasarkan sekolah, melainkan berdasarkan soal ujian.
Saat menanggapi hal tersebut, Mendikbud menyarankan kepada seluruh LPMP provinsi agar segera melaporkan setiap kendala. "Harus segera, agar kami yang di Jakarta bisa mempertimbangkan langkah apa yang harus diambil dan segera bertindak."
Untuk diketahui, UN untuk tingkat SMA/SMK diselenggarakan pada 13 April-15 April 2015. Adapun, untuk tingkat SMP pada 4 Mei-7 Mei 2015.
Tak hanya berbasis kertas, pada tahun ini juga dilangsungkan UN berbasis komputer. Namun, hanya pihak sekolah yang dinyatakan siap yang melaksanakan UN secara daring. Anies mengatakan sejauh ini semua wilayah umumnya siap menghadapi UN tingkat SMA dan sederajat.
Pinjam komputer Akan tetapi, untuk UN yang dilakukan secara daring, dari keseluruhan wilayah di Indonesia, persentasenya hanya 2,27% sekolah yang siap. Umumnya mereka terkendala sarana, seperti komputer dan lain sebagainya. Di Kota Bekasi, misalnya, salah satu sekolah di wilayah tersebut, yakni SMA 5 Bekasi, kekurangan komputer sehingga terpaksa meminjam dari sekolah lain. "Kami masih mengupayakan dengan meminjam pada beberapa sekolah terdekat," ujar Wakil Kepala SMAN 5 Kota Bekasi, Rahayu, kemarin.
Menurut penuturannya, saat ini SMAN 5 Kota Bekasi baru memiliki sekitar 60 unit komputer. Adapun, jumlah peserta ujian sebanyak 309 siswa. "Karena pelaksanaan ujian dilakukan tiga sif, minimal komputer yang tersedia sebanyak sepertiganya."
Pihaknya mengaku belum mendapatkan anggaran pengadaan komputer tambahan dari pusat maupun daerah. Untuk itu, pemenuhan kekurangan unit pun dilakukan secara swadaya. Caranya dengan meminjam ke sekolah-sekolah terdekat, antara lain SMAN 15, SMAN 7, SMAN 16, SMPN 6, SMPN 20, dan SMAN 1. "Alhamdulillah sekarang sudah terkumpul 104 komputer," ungkap Rahayu.
Selain itu, pihak SMAN 5 juga menyewa generator untuk penunjang pelaksanaan ujian. Keberadaan generator dibutuhkan untuk memastikan pasokan listrik tidak terganggu. "Khawatirnya saat ujian berlangsung ada pemadaman listrik. Supaya tidak mengganggu jalannya ujian, kami menyiapkan genset."
Persoalan ujian secara daring ini tak hanya terjadi di Bekasi. Di Yogyakarta, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) setempat, Kadarmanta Baskara Aji, menyampaikan kendala utama yang mereka alami lambatnya bandwidth untuk mengunduh soal. Namun, pihaknya meminta sekolah untuk menambah kapasitas bandwith. (Tim/M-6)