Monita Tahalea Inspirasi dari Pujangga

Abdillah Muhammad Marzuqi
13/5/2019 00:30
Monita Tahalea Inspirasi dari Pujangga
Monita Tahalea(MI/Panca Syurkani)

BIDUANITA Monita Tahalea sudah sering berada di panggung musik. Tidak diragukan lagi, Monita sanggup memukau penikmat musik dengan suara khas. Namun, akhir pekan lalu, ia tampil berbeda. Untuk pertama kalinya penyanyi musik muda Indonesia itu tampil menyanyi sembari membacakan puisi.

Puisi memang tidak jauh dari proses berkarya Monita. Sebagai penulis lagu, ternyata puisi memegang peranan penting sebagai insipirasi lirik-lirik lagu Monita.

Empat belas tahun silam, Monita Tahalea memulai kariernya di industri musik Tanah Air melalui ajang pencarian bakat. Ia lalu merilis debut album pertama bertajuk Dream, Hope and Faith yang diproduseri Indra Lesmana. Tiga tahun kemudian, ia merilis mini album Song of Praise bersama band-nya, The Nightingales.

Pada 2015, Monita merilis secara independen album solo kedua bertajuk Dandelion. Baru-baru ini, Monita juga meluncurkan single terbaru berjudul Jauh nan Teduh. Di situ, ia tak hanya sebagai penyanyi dan penulis lagu, tapi juga produser.

Perkenalan Monita dengan puisi bermula saat ia di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia diharuskan membuat puisi untuk tugas sekolah. Ia tidak dapat mengingat persis puisi yang ia buat pertama kali. Seingatnya, tema puisi pertamanya itu sangat erat dengan dunia anak-anak, yakni bersepeda di sore hari.

Ternyata perkenalan awal itu terbawa hingga SMP, meski ia pun masih tak begitu paham dengan puisi sebagai bentuk karya sastra. Monita mengaku sering membaca puisi, tetapi tidak di depan publik. Ia membaca puisi lantaran senang. Ia ingin menangkap suasana dan merasakan perasaan yang sama dengan penyair dalam puisi yang ia baca.

"Jadi, mungkin sejak sekolah dulu. SMP kali ya, cuma enggak begitu paham kalau itu literatur, karya sastra, atau apalah? Cuma karena suka baca, senang, terus diam. Itu makanya puisi-puisi aku simpan sendiri, enggak pernah aku bacain. Cuma pengin rasain apa yang dia (sastrawan) rasain," tutur perempuan berdarah Ambon, Manado, dan Austria itu.

Puisi-puisi yang ia baca beragam, dari karya penyair klasik, seperti William Shakespeare dan Leo Tolstoy, sampai karya pujangga Tanah Air, seperti Chairil Anwar.

 

Buka kembali

Sejak ia terjun dalam dunia musik sekaligus penulis lirik lagu, ia mengaku membuka kembali buku-buku sastra Indonesia. Keakrabannya dengan puisi lalu berlanjut pada sesi yang lebih intim. Ketika itu, Monita mendapat rekomendasi buku puisi, salah satunya ialah antologi puisi dari tiga penyair berjudul Tiga Menguak Takdir pada akhir 2013.

"Pastinya aku bukan yang kayak benar-benar kumpulin buku puisi. Sejak aku tulis lirik, aku mulai baca sastra Indonesia lagi. Sebenarnya memang dulu sering baca puisi, cuma tanpa aku sadari ternyata aku sudah baca banyak, seiring aku tulis lirik," kisahnya.

Menurut Monita, banyak di antara lirik yang dibuatnya terinspirasi dari puisi dalam buku Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Buku itu pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1950. Puisi karya Rivai Apin berjudul Elegi yang menginspirasinya dalam menciptakan lagu yang berjudul Bisu.

"Karena memang banyak lirik yang aku buat, inspirasinya dari apa yang aku baca di Tiga Menguak Takdir," tandasnya.

Pada Sabtu (11/5) malam, di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, Monita tidak hanya unjuk kebolehannya berolah suara, tapi juga membacakan karya sastra. Monita melantun tembang sembari menyisipkan beberapa bait puisi pada acara bertajuk Tiga Menguak Takdir tersebut.

Monita tidak ingin kecolongan dalam penampilan perdananya. Ia ingin memastikan performanya tidak mengecewakan siapapun. Ia mengaku menghabiskan waktu beberapa hari untuk bisa membawakan karya sastra.

"Buat aku, ini pengalaman pertama bacakan karya puisi di depan orang-orang. Bayangkan, seperti zaman sekolah dasar yang (deklamasi puisi) berjudul Ibu," ucapnya sembari mengangkat kedua tangannya memperagakan gaya deklamasi anak sekolah dasar yang menggebu-gebu.

Akhirnya, Monita menjadikan panggung itu selayaknya panggung musik berpadu dengan apresiasi puisi. Ia membaca syair karya sastrawan Indonesia sembari mengaitkan dengan lirik dalam lagunya.

"Makanya tadi aku coba dengan caraku saja. Aku tetap bacakan, tapi aku hubungkan dengan karya-karyaku yang lirik-liriknya aku buat," ucap Monita.

Keintiman Monita dan puisi juga dipengaruhi pendapatnya yang menganggap lirik dan puisi punya kesamaan. Meski begitu, ia mengaku tidak mengetahui perbedaannya secara teknis. "Bagi saya, lirik dan puisi sama kali ya, sama-sama tulisan. Kebanyakan tulisan saya juga basic-nya dari puisi," tandasnya. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya