Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG anak, Muhamad Figo, 2,2 tahun, tampak riang berjalan ke sana kemari. Lalu kembali ke pelukan ayahnya sambil tertawa bercanda.
"Baru seminggu ini bisa jalan. Sebelumnya lumpuh karena terkena kanker darah (leukimia)," ujar sang ayah, Syatifudin,27 yang sudah lima bulan tinggal di rumah singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), di Percetakan Negara XI, Jakarta Pusat, Senin (15/4).
Tidak jauh dari Figo, seorang anak dari Ambon, Aby,3, juga berjalan mondar-mondir sambil dikawal ayahnya, Yusri Papalia,25. Sebabnya, penderita leukimia yang sudah dikolostomi (mengenakan kantung pengganti anus) itu sesekali terjatuh.
"Waktu dirawat di RSUD Ambon anusnya pecah. Jadi langsung dari rumah sakit ke naik pesawat ke Jakarta," ujarnya yang sudah setahun tinggal mendampingi anaknya di Rumah Kita YKAKI.

Foto: MI/Rosmery Sihombing
Figo dan Aby merupakan bagian dari 38 anak yang tinggal di rumah singgah YKAKI. Selain anak berusia di bawah lima tahun, ada juga Vita, 10, dari Bengkulu yang baru datang dan Ervan, 16, penderita maligna non hodkin (LMNH) dari Pontianak, Kalimantan Barat.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu sudah tinggal 9 bulan di YKAKI dan tengah menjalani pengobatan Protokol kedua, kemo yang keempat. Keduanya tinggal sendiri tanpa didampingi orangtua. Ervan, misalnya harus kontrol 2 minggu sekali. Ia pergi sendiri ke RSCM.
"Vita itu diantar Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bengkulu, karena tidak ada yang mengurus. Ibunya sudah meninggal, kakanya arus bekerja untuk membayar utang, dan bapaknya agak tidak peduli. Sedangkan Ervan, bapaknya pulang karena harus bertani untuk menghidupi keluarganya," ujar duta YKAKI, Retno Palupi A Noya.
Siang itu, sebanyak 38 anak penghuni rumah YKAKI dan para orangtua berkumpul menggelar acara. Ada pertunjukan tari modern, bernyanyi, dan sulap yang dibawakan oleh para anak tersebut.
Para anak penderita kanker dari berbagai daerah itu menunjukkan aksi mereka di hadapan Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi, Irwan Hidayat,dan rombongan yang mendonasikan Rp350 juta ke YKAKI.
Membantu Anak dengan Kanker
Upaya membantu menanggulangi kanker anak di Indonesia tidak selalu dengan obat-obatan. Bisa juga melalui informasi tepat guna mengenai deteksi dini, menyediakan sarana akomodasi/rumah singgah, pendidikan bagi anak-anak yang sedang dalam perawatan di rumah sakit.
Demikian pula advokasi/pendampingan para orangtua disaat mereka membutuhkan. Salah satu yang dilakukan YKAKI dalam mendukung anak-anak penderita kanker mencapai kesembuhan adalah lewat rumah singgah.
Menurut Ketua YKAKI Ira Soelistyo, rumah singgah tersebut berdiri sejak 2006. Idenya berawal saat Ira membawa anaknya yang terkena kanker berobat ke Belanda. Di sana ia tinggal di rumah singgah McDonald.
"Pada 2006 kami kontrak rumah sederhana. Lalu kontrak rumah lebih besar. Kemudian jual kupon Rp10.000 dengan target RP4 miliar untuk membeli tanah. Dalam waktu 2 tahun, alhamdulilah terkumpul," ujar Ira.
Saat ini, lanjutnya, sudah ada tujuh cabang, yakni di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Manado, Makassar, Semarang, dan Pekanbaru. Semua pembiayaan operasional cabang tersebut oleh YKAKI.
Lebih lanjut, Ira yang didampingi pendiri YKAKI lainnya Aniza Alatas, mengatakan dipilihnya lokasi Percetakan Negara supaya dekat dengan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), sehingga anak penderita kanker tidak terlalu jauh untuk berobat.
Di Jakarta, YKAKI bekerja sama dengan RS Fatmawati, Dharmais, dan RS Harapan Kita. Ira mengaku bersyukur dengan bertambahnya donatur dari Irwan Hidayat. Sebabnya, YKAKI harus membiayai mulai dari makan, vitamin, susu, buku-buku sekolah, alat mandi, bahkan obat-obatan.
"Kami menanggung keperluan anak-anak, makanan, susu, gizi, pempers, dan hiburan-hiburan supaya anak-anak tidak stres dan punya semangat. Selain itu orangtua mereka juga kami kasih asupan gizi. Karena mereka harus kuat merawat anak-anak mereka. Kami juga butuh dana untuk menggaji guru2 profesional yg mengajar anak," tutur Ira.
"Kadang ada obat yang harus cepat diberikan, sementara kalau menunggu BPJS agak antre. Kami harus membiayainya," jelasnya.
Aniza menambahkan, selain untuk kebutuhan makan sehari-hari dan obat, pembiayaan yang cukup besar juga untuk pendidikan. Anak-anak juga disediakan sekolah dengan tenaga pengajar profesional. Bahkan guru-guru tersebut mengajar juga di RS selama anak dirawat. Menjadi penghuni rumah singgah YKAKI tidaklah sulit. Mereka boleh datang dari mana saja yang penting pemegang BPJS rujukan kelas 3.
"Daya tampung rumah kami 50 anak. Tempat tidur pun didesain cukup untuk ibu atau bapak dengan anaknya," tambahnya.
Semua yang tinggal di rumah tersebut, sambung Aniza, gratis, termasuk biaya makan orang tua yang mendampingi. Namun, katanya, para orangtua tersebut bekerja bersih-bersih, seperti mengepel, cuci piring, lap kaca, dan lainnya.
"Ada jadwalnya, tugas para orangtua itu apa saja," ujar Aniza.
Sementara itu, Irwan Hidayat mengatakan kehadiran pihaknya ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak penderita kanker.
"Kami datang menghibur anak-anak, sehingga setidaknya mereka tidak merasa kesepian. Bantuan yang diberikan adalah uang tunai yang akan dimanfaatkan untuk membangun rumah singgah," ujarnya.
Selain menyumbang YKAKI, ia juga memberikan Rp1 juta kepada setiap orang tua yang mendampingi anaknya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved