APA Anda pernah merasakan gejala nyeri pada sebelah kaki saat berjalan dan bahkan kesemutan meski sedang tidur? Atau, Anda mengalami kram pada sebelah kaki dan terasa dingin saat diraba? Berhati-hatilah, karena hal itu bisa jadi indikasi awal dari penyakit arteri perifer (peripheral artery disease/PAD).
Penyakit itu berkaitan dengan penyempitan pembuluh arteri yang mengakibatkan aliran darah dari jantung menuju kaki berkurang.
Penyakit ini juga pertanda adanya akumulasi penyakit aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh arteri karena sumbatan lemak yang mengganggu aliran darah. Sayangnya, tidak semua pengidap PAD mengalami gejala awal.
Menurut spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dono Antono SpPD, 50% penderita PAD tidak menunjukkan gejala awal dan 20% lainnya mengalami gejala nyeri pada kaki, tetapi tidak sampai mengganggu pergerakan. Sisanya baru merasakan gangguan aktivitas. Karena itu, kebanyakan pasien baru mengonsultasikan penyakitnya setelah memasuki tahap akut.
"Padahal, kalau tidak ada aliran darah ke organ tubuh lewat dari 12 jam, jaringannya akan mati," ujar Dono ketika ditemui Media Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Jika hal itu terjadi, organ yang tidak dialiri darah perlahan akan mengalami gangren atau pembusukan dan pembentukan gas akibat infeksi.
Persentase pasien mengalami hal ini mencapai 32%. Pasien yang mengalami kondisi ini umumnya akan disarankan untuk menjalani amputasi agar infeksi tidak melebar.
Ironisnya, tindakan tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko kematian pasien. Berdasarkan studi, 14,8% pasien meninggal pascaamputasi. Kalaupun hidup, umur hidup pasien umumnya mencapai 23,8 bulan jika tidak ada tindakan operasi lanjutan untuk mengatasi penyempitan pembuluh darahnya. Sayangnya, tidak semua dokter memiliki pengetahuan mendalam soal PAD.
"Tingkat pengetahuan dokter mengenai penyakit arteri perifer masih minim, padahal pasien datang sudah parah kondisinya," sahut Dono.
Ia menjelaskan upaya untuk mengatasi penyempitan arteri bisa dilakukan dengan memasang stent seperti pada pasien jantung koroner. Dengan stent tersebut, pembuluh darah yang tersumbat terbuka sehingga aliran darah kembali lancar. Tentu, pasien harus menjaga pola hidup sehat agar kondisi fisiknya kembali bugar.
"Operasi itu efektif. Pasien saya yang awalnya tidak bisa jalan sama sekali, sekarang sudah mulai berjalan sendiri," cetusnya.
Gaya hidup Dono menyatakan, semakin tua, risiko mengidap PAD semakin tinggi. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat bisa meningkatkan tingkat risiko terjadinya PAD. Pasalnya, penelitian menunjukkan bahwa pola hidup yang tidak sehat berkontribusi pada kualitas fungsi organ.
Kebiasaan merokok, kurang berolahraga, dan pola makan tidak seimbang menyebabkan kualitas fungsi organ cepat menurun. Akibatnya, tubuh mudah terserang diabetes, hipertensi hingga hiperkolesterolemia yang mendorong terjadinya penyempitan pembuluh darah.
"Proses penyempitan ini bisa terjadi sejak balita atau remaja. Apalagi, yang terbiasa mengonsumsi fast food dan merokok sejak usia remaja. Secara kasatmata mungkin baik-baik saja, tapi baru ketahuan kalau kita melakukan check up," terangnya.
Upaya pencegahan bisa dilakukan sedini mungkin dengan melaksanakan program hidup sehat. Yang harus dilakukan pertama kali ialah berhenti merokok. Selanjutnya ialah berolahraga secara rutin, minimal 30 menit sehari. Jika malas meluangkan waktu khusus untuk pergi ke sarana kebugaran, Anda bisa memanfaatkan waktu perjalanan menuju dan pulang kantor untuk berjalan kaki.
Langkah berikutnya ialah mengubah pola konsumsi dengan menambah porsi serat dalam menu makanan dan mengurangi asupan lemak, garam, dan gula.
Di samping itu, pengecekan kondisi tubuh secara rutin sangat dianjurkan. Tidak ada salahnya jika Anda memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah, untuk mengecek kondisinya normal atau tidak secara berkala.
"Salah satu indikasi adanya PAD adalah dengan memeriksa ankle brachial index yang membandingkan tekanan darah di kaki dengan tekanan darah di lengan. Itu bisa dilakukan sendiri di rumah dengan menggunakan pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan.
Pengukurannya dalam posisi tidur. Kalau hasilnya antara 0,91-1,3, itu berarti masih normal," tukasnya. (H-1)