MENTERI Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek mengatakan kondisi darurat gizi di Indonesia salah satunya dipicu tidak terpenuhinya gizi sarapan pada anak-anak sekolah.
Karena itu, seluruh pihak, mulai orangtua hingga guru, diminta meningkatkan kesadaran sarapan pada anak atau siswa mereka.
"Itu bermula dari sarapan anak-anak yang sering tidak terpenuhi. Sarapan pagi penting. Mereka akan mengisi otak dengan energi dari sarapan pagi.
Orangtua dan guru mesti sadar dalam hal ini," ujar Menkes dalam peringatan Hari Kesehatan Sedunia di Jakarta, kemarin. Pada tahun ini masalah keamanan pangan menjadi fokus Hari Kesehatan Sedunia 2015 di Indonesia.
Pekan lalu, Direktur Bina Gizi Kemenkes Doddy Izwardy saat di Makassar, Sulsel, mengatakan dari 117 negara di dunia, Indonesia masuk darurat gizi dengan tiga dampak pada tumbuh kembang anak.
Ketiga dampak itu ialah anak mengalami stunting (tinggi badan tidak sesuai dengan usia atau bertubuh pendek), berbadan kurus yang memicu gizi buruk, dan berbadan gemuk yang memicu obesitas.
Pada kesempatan itu, Menkes sempat mengkritik kebijakan Pemprov DKI yang menerapkan kebijakan masuk sekolah sejak pukul 06.30 WIB. Padahal, kantin bersih di sekolah belum tentu tersedia.
"Saya usul ini dikaji lagi agar kebutuhan anak atas keamanan pangan terjamin sebab membeli makanan di kantin belum tentu bersih, apalagi ada yang menggunakan bahan pengawet," tegas Nila.
Direktur Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes M Subuh menambahkan, guna menjaga keamanan pangan, masyarakat bisa melihat lebih dahulu pengolahan bahan bakunya.
"Bahan bakunya sudah aman atau belum, lalu kebersihan air yang dipakai, pengemasan makanannya di plastik atau styrofoam, dan penyajiannya di tempat terbuka atau bagaimana.