Cegah Baby Blues, Bidan Diminta Proaktif

Reza Sunarya
03/4/2019 10:30
Cegah Baby Blues, Bidan Diminta Proaktif
Bidan menyiapkan alat di Puskesmas Alang-alang Lebar, Palembang, Sumatra Selatan.(ANTARA/Feny Selly)

KASUS penguburan hidup-hidup bayi usia 5 bulan yang dilakukan ibunya sendiri di Kiarapedes, Purwakarta, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, menjadi perhatian. Terlebih yang dilakukan W, 35, tersebut diduga karena mengalami baby blues atau psikis kejiwaan yang kerap dialami ibu hamil dan ibu yang melahirkan.

Agar tidak terjadi kejadian yang serupa, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat meminta para bidan desa untuk proaktif dalam memantau ibu hamil dan pascamelahirkan.

"Proaktif dan cepat tanggap, bahkan selalu berkoordinasi dengan aparat desa setempat," kata PLT Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Dadan, di Bale Sawala Yudhistira. Selasa (2/4).

Menurut Dadan, ketika kegiatan posyandu keliling, para bidan harus serta merta memberikan pemahaman pendampingan baik untuk keluarga maupun ibu yang sedang hamil.

Baca juga: Pemerintah Diminta Evaluasi Uji Kompetensi Perawat dan Bidan

"Manfaatkan juga momen kegiatan posyandu yang suka digelar di RT/RW. Di situ bidan juga berikan penyuluhan akan bahayanya baby blues syndrome baik untuk ibu hamil dan pascamelahirkan termasuk keluarganya," ujar Dadan.

Selain itu, dirinya juga meminta peran serta keluarga dan masyarakat, terhadap ibu hamil atau pascamelahirkan. Karena timbulnya baby blues syndrome bisa diminalkan apabila dilakukan pendampingan yang tepat dari lingkungan, salah satunya keluarga yang memiliki ibu hamil atau pasca melahirkan.

Sehingga kejadian yang menimpa W bisa diminimalisasi serta kasus terakhir di Purwakarta.

"Untuk itu tadi juga kita undang pakar bagaimana meminimalisasi baby blues syndrome, yang terpenting keluarga, masyarakat serta aparat desa termasuk bidan harus proaktif," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya