Gerakan Hidup Sehat Minim Komitmen

Sri Utami ami@mediaindonesia.com
11/3/2019 04:00
Gerakan Hidup Sehat Minim Komitmen
(MI/PIUS ERLANGGA)

MESKI usia harap-an hidup di Indonesia meningkat sekitar 11 tahun dalam tiga dekade, ketimpangan antardaerah masih besar, termasuk urusan dalam bidang kesehatan. Distribusi tenaga kesehatan belum merata serta makin meresahkannya persoalan pengendalian tembakau.

Rokok menjadi masalah serius di Indonesia, ditunjukkan dengan terus meningkatnya angka perokok dan kasus penyakit yang disebabkan olehnya. Namun, belum ada komitmen yang tegas dari otoritas terkait untuk mengatasi kondisi itu.

"Tidak ada komitmen yang komprehensif dan intensif," ucap Menteri Kesehatan periode 2012-2014 Nafsiah Mboi dalam diskusi bertajuk Menuju Debat III, Menakar Visi Kesehatan, yang dihelat di Jakarta, pekan lalu.

Dalam studi yang dilakukannya, rokok termasuk penyebab meningkatnya beban penyakit dan risiko di 34 provinsi. Studi juga menemukan angka perokok di semua provinsi meningkat, termasuk kalangan perokok muda ber-usia 15-19 tahun.

"Ini sudah merampas hak anak untuk hidup sehat," cetus Ketua Badan Pembina Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) itu.

Di sisi lain, keberadaan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat tidak menuai hasil maksimal karena minim komitmen pemerintah daerah.

"Intruksi itu baik, tapi juga harus didukung oleh pemerintah. Ada 13 provinsi yang belum ada aturan sama sekali tentang pengendalian rokok," sebutnya.

Nafsiah pun berharap kedua calon wakil presiden akan memunculkan rencana pe-ngendalian rokok dalam debat ketiga yang diadakan pada Minggu (17/3) mendatang.

Hal senada diutarakan pengamat ekonomi Universitas Indonesia Abdilah Ahsan. Ia mengingatkan, Indonesia harus fokus menciptakan SDM berkualitas untuk bisa menghadapi tantangan di 2045.

"Pembangunan SDM belum fokus, masih infrastruktur. Pemerintah harus lakukan intervensi pos kesehatan, termasuk pengendalian me-rokok," jelasnya.

Menurutnya, perputaran uang dalam industri rokok sangat besar dengan jumlah perokok aktif mencapai 90 juta orang.

"Di negara lain sudah menunjukkan penurunan, malah kita tetap," ujarnya.

Tantangan bersama

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasbullah Thabrany, mengatakan rokok merupakan masalah multisektoral. Tak hanya kesehatan, tapi juga sosial, ekonomi, bahkan agama. "Kompleks sekali dan ini menjadi tantangan kita bersama," imbuhnya.

Karena itu juga, TKN telah mengkaji dan mengusulkan penaikan cukai rokok. "Ini jadi tantangan kami, Indonesia menjadi tumpuan akhir industri rokok karena masyarakat juga tidak melihat rokok sebagai ancaman. Menaikkan cukai rokok bukan berarti mengorbankan petani tembakau," tandasnya.

Saat menghadiri peringatan HUT ke-10 Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kemang Medical Care di Jakarta, kemarin, Wapres Jusuf Kalla mengatakan generasi berkualitas berasal dari bayi yang sehat. Terkait itu, seluruh pihak dari orangtua hingga dokter berperan penting menjamin lahirnya bayi-bayi sehat. (Dhk/H-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya