Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAKNYA informasi mengenai kanker kadang justru membuat penderita ragu-ragu dalam menjalani pengobatan medis. Sebagian dari pasien mencoba berbagai pengobatan alternatif lebih dulu, kemudian baru ke rumah sakit ketika cara alternatif itu gagal. Sayangnya, saat pasien ke rumah sakit, kankernya sudah berada di stadium lanjut hingga sulit ditangani.
"Memang, pengobatan medis belum ada yang bisa menjanjikan kesembuhan 100% sehingga banyak pihak memberikan informasi yang menyesatkan untuk mengambil keuntungan dari jualan (produk maupun layanan alternatif)," ujar dokter spesialis bedah konsultan onkologi, dr Sonar Soni Panigoro SpB(K)Onk, pada peringatan Hari Kanker Sedunia di Jakarta, akhir pekan lalu. Peringatan bertema I am and i will itu digelar Kalbe Ethical Customer Care (KECC) dan Indonesia Cancer Care Community (ICCC).
Dokter Sonar mencontohkan banyak testimoni di internet yang menyebutkan kanker mereka sembuh setelah menjalani terapi memindahkan kanker ke kambing ataupun minum air dan ramuan tertentu. Faktanya, itu semua tipuan belaka.
Ia pun mengimbau agar pasien tetap konsisten menjalani pengobatan medis yang sudah melalui penelitian ilmiah. Seperti pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Prinsipnya, semakin dini kanker diobati dan diterapi dengan benar, semakin besar peluang keberhasilannya.
"Hasil pengobatan sangat ditentukan sudah sejauh mana kanker ditemukan. Jika ditemukan sedini mungkin, angka kesembuhannya lebih tinggi. Tetapi jika sudah menyebar ke organ-organ lainnya, cukup sulit," terang dokter yang berpraktik RS Kanker Dharmais dan RS Medistra, Jakarta itu.
Dokter Sonar menambahkan, ada seratusan jenis kanker yang diketahui saat ini. Kanker disebabkan adanya mutasi gen yang tidak terkendali. Faktor penyebab kanker belum diketahui secara pasti, tetapi ada sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan.
"Faktor risiko yang mempermudah timbulnya kanker antara lain faktor keturunan, tetapi hanya 5%. Selebihnya dipengaruhi faktor lain seperti faktor makanan 30%, obesitas 10%-20%, kebiasaan merokok 25%-30%, dan infeksi 15% hingga 20%," paparnya.
Pada kesempatan sama, Marketing Manager Farma PT Kalbe Farma Tbk Selvinna mengatakan Kalbe terus mewujudkan komitmen terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Salah satunya mendukung program pemerintah menurunkan angka prevalensi kanker dengan pencegahan, termasuk edukasi masyarakat.
“Diharapkan, melalui kegiatan ini masyarakat tergerak memperbaiki gaya hidup sehari-hari agar terhidar dari penyakit kanker. Salah satunya melakukan deteksi dini kanker dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” ucapnya. (Ind/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved