Revolusi Pendidikan 4.0

Fathurrozak
24/2/2019 06:40
Revolusi Pendidikan 4.0
(dok UMB)

TAICHING: Meningkatnya penggunaan inernet belakangan memengaruhi semua sektor, tak terkecuali dunia pendidikan. Kondisi itu dijawab Universitas Mercu Buana melalui revolusi pendidikan 4.0.

PEMBICARAAN terkait dengan internet belakangan ini semakin mendominasi. Tidak semata bicara internet, tapi juga big data dan artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.

Generasi digital native pun turut memengaruhi perkembangan industri, yang tengah gencar-gencarnya didengungkan revolusi industri 4.0. Pendidikan, tidak terkecuali menjadi bidang yang mengalami perubahan.

Lebih lanjut, video blog juga semakin banyak peminatnya, terutama di kalangan anak muda. Di bidang pemasaran pun terdampak, memasarkan produk tidak melulu melalui televisi untuk terkenal. Kini dengan media sosial seperti Instagram bisa mengubah peta pemasaran, termasuk memunculkan profesi baru, seperti selebgram, pemengaruh alias influencer, dan pembuatan konten.

Kondisi itu pun dibaca Universitas Mercu Buana (UMB). Menurut Direktur Pemasaran Regular Satu Irmulan Sati T, jurusan penyiaran (broadcasting) dan desain komunikasi visual (DKV) menjadi jurusan yang paling diminati calon mahasiswa saat ini. Pasalnya, kedua jurusan itu membuka luas profesi nonarus utama, yang masuk dalam ranah industri kreatif.

Selain dua jurusan itu, ilmu komputer juga termasuk jurusan dengan kategori peminat yang tinggi. Ketiga jurusan itu dinilai rektor UMB, Ngadino Surip, yang bersinggungan dengan transformasi industri 4.0, yakni internet of thing, big data, robotik, dan kecerdasan buatan.

"Anak sekarang serba memilih industri kreatif karena memang peluangnya di situ lebih luas, tanpa jadi job seeker pun mereka bisa membuat konten mereka sendiri untuk ditawarkan ke industri. Untuk itu, para siswa ini harus memiliki pemahaman terhadap profesi, makanya kami lakukan lokakarya profesi, hal-hal yang harus disiapkan sejak sekarang agar ketika masuk perguruan tinggi tidak salah jurusan, dan nantinya tidak mandek karena ternyata justru bukan peminatan yang dia mau," ungkap Sati seusai membuka Festival Universitas Mercu Buana dan Open House, Selasa (19/2), di Kampus Meruya, Jakarta Barat.

Dalam festival yang telah berlangsung lebih dari sedekade itu, profesi era 4.0 memang jadi tema utama. Ide ini diturunkan dalam bentuk kompetisi dan lokakarya. Salah satunya, kompetisi video blog (vlog) dan penulisan kreatif. Dalam lokakarya, UMB mengundang siswa dan guru SMA, guna menjaring calon mahasiswa. Namun, Sati menegaskan, pendidikan berkualitas ialah landasan dari diadakannya kegiatan ini.

"Kami lakukan ini sebagai bentuk memfasilitasi kebutuhan siswa-siswi dan guru agar lebih aktif, mampu meningkatkan potensi dan skill peserta didik, makin bagus dan berkualitas. Semua orang punya hak sama untuk pendidikan yang berkualitas."

Adu kompak

Dalam festival ke-11 ini, tidak hanya menyuguhkan kompetisi berbasis digital, tetapi juga kompetisi olahraga dan seni budaya, seperti tari Ratoh Jaroe.

Di kompetisi ini para peserta dinilai kekompakan gerakan dari tangan dan bahu mereka. Apakah tetap selaras dengan gerakan tempo yang dari pelan hingga cepat, serta selingan suara lengkingan para penarinya pada beberapa gerakan. Menonton tarian ini memang mengundang decak kagum. Apalagi, tarian kreasi asal Nanggroe Aceh Darussalam itu diperlombakan di Festival UMB Sebelas, Sabtu (16/2).

Sayangnya, sejumlah orang salah kaprah akan nama tarian itu. Sebenarnya, nama tarian itu ialah Ratoh Jaroe bukan Saman. Sama-sama berasal dari Aceh, Ratoh Jaroe merupakan modifikasi dari tarian Saman yang aslinya ditarikan para pria.

"Yang paling membedakan ada pada pemainnya, di Ratoh Jaroe semuanya perempuan dan mereka menari sambil duduk," kata pelatih tari Saman UMB, Juniawan.

Sesuai namanya, ratoh berarti menari dan jaroe ialah jemari. Bila digabungkan bermakna jemari yang menari. Bila Saman mengandalkan bodi perkusi, Ratoh Jaroe menggunakan rampai atau gendang tradisional Aceh yang diiringi penyair berbahasa Aceh, syekh. "Syekh ini berfungsi pula untuk memimpin dan mengatur tempo tarian," kata Juniawan.

Ternyata peminat tarian ini belakangan meningkat. Tidak mengherankan banyak sekolah yang menghadirkan ekstrakurikuler tari Ratoh Jaroe ini. Seperti yang dirasakan Nasywa, siswi kelas 8 MTs Pembangunan Ciputat, yang tertarik bergabung dengan grup tari tradisional. "Menurutku seru aja, apalagi penampilan tarian ini keren bisa kompak. Tentu latihannya pun tak gampang, apalagi latihannya enggak semuanya datang," kata Nasywa yang saat itu kelompok tarinya mendapatkan juara kedua.

Kekompakan menari itu menjadi salah satu unsur penilaian dari juri. Ternyata kunci rahasia kekompakan tidak hanya ditunjukan saat di panggung, tapi di luar panggung. Seperti yang diakui Nur Alisa Zahra, siswi kelas 10 SMK Sumpah Pemuda. "Di luar pementasan, sebisa mungkin kami jalin kedekatan, menghindari konflik hingga terjalin keharmonisan dan pasti kompak," kata Alisa.

Ia juga menuturkan tarian yang mengandalkan kekompakkan itu mengasah dirinya untuk terus fokus pada beberapa kegiatan dalam satu waktu. "Bukan hanya perihal menari, mereka juga harus sambil menyanyi dengan terus menjaga power yang menjadi salah satu penilaian," lanjut Juniawan.

Dalam kategori SMP, perlombaan itu dijuarai SMPN 127 A Jakarta, sedangkan kategori SMA juara pertama berhasil direbut SMAN 87 Jakarta. (Wan/M-3)

Nasywa

Kelas 8 MTs Pembangunan Ciputat

Kami latihan cukup intens dan senang banget berhasil juara kedua di Ratoh Jaroe ini. Tarian ini memang butuh fokus yang tentunya bermanfaat pula bagi saya. Kesulitan diawal karena banyak gerakan dengan tempo berbeda, tapi jadi mudah kalau dibiasakan latihan.

Nur Alisa Zahra

Kelas 10 SMK Sumpah Pemuda

Meskipun sudah banyak masuk budaya tarian dari negara lain seperti K-pop, tapi bagiku lebih seru lagi belajar tarian negeri sendiri. Aku enggak akan nyesel kok belajar tarian daerah. Kalau bukan kita yang mencintainya, ya, siapa lagi kan? Jangan sampai diklaim negara lain.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya