Indonesia Belum Punya Peta Jalur Sesar Aktif di Tiap Wilayah

Indriyani Astuti
21/2/2019 18:24
Indonesia Belum Punya Peta Jalur Sesar Aktif di Tiap Wilayah
(source pic)

PASCA Palu diguncang gempa berkekuatan 7,7 skala richter, banyak bangunan yang rusak parah dan menimbulkan korban jiwa. Bangunan-bangunan itu diduga kuat berada pada jalur sesar aktif Palu-Koro yang memanjang dari utara barat laut ke selatan-tenggara Pulau Sulawesi.

Ketua Kelompok Kerja Geologi Pusat Studi Gempa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawijaya mengatakan sejauh ini, belum ada pemetaan sesar di Indonesia untuk zonasi bahaya deformasi sesar aktif.

"Pemetaan perlu dilakukan agar masyarakat tidak membuat bangunan di atasnya," ujar Hilman dalam acara pembekalan kebencanaan bagi media di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, hari ini.

Untuk mitigasi bahaya gempa pada masa mendatang, ujar Hilman, pemerintah sudah membuat peta bahaya zonasi gempa di Indonesia. Fungsi dari peta tersebut menggambarkan besarnya gocangan akibat gempa. Peta itu dapat digunakan oleh para perancang struktur bangunan.

"Permasalahannya banyak sekali bangunan yang belum memenuhi persyaratan mengacu pada peta tersebut," katanya.

Terkait potensi gempa di Indonesia, diterangkannya bahwa Indonesia memiliki zona subduksi yang sangat panjang dimulai dari Sumatera, Selatan Jawa, Maluku, Utara Sulawesi dan Utara Papua. Panjang zona subduksi di Indonesia diperkirakan, tiga kali lebih panjang daripada Jepang.

Selain itu, wilayah Indonesia juga dipenuhi jalur-jalur sesar aktif di darat dan laut. Sedangkan, data sumber gempa masih sedikit sehingga menurutnya butuh banyak riset untuk mitigasi gempa dan tsunami, termasuk mengembangkan sistem peringatan dini yang spesifik untuk setiap daerah. Itu menyesuaikan karakter sumber gempa dan tsunami serta kondisi geografis.

"Melihat kompleksitas sumber gempa yang ada di Indonesia, kita perlu melakukan riset mendalam sehingga mitigasi dan edukasi yang disampaikan tepat,"ucapnya.

Hilman mengatakan bahwa gempa bisa dipelajari secara detil mulai dari mekanismenya, lokasi-lokasi yang berpotensi sumber gempa besar, kekuatannya dan seberapa sering gempa itu terjadi. Meski demikian, belum ada metode yang betul-betul tepat memprediksi waktu persisnya gempa akan terjadi.

"Saat ini prediksi gempa jangka pendek belum bisa dilakukan,"ucapnya.

Sedangkan untuk prediksi gempa yang berpotensi tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengembangkan sistem yang disebut Indonesia tsunami Early Warning System (InaTEWS). Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami Daryono mengatakan BMKG dapat memberikan informasi lima menit setelah terjadi gempa terjadi bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami atau tidak.

"Informasi ini bisa dijadikan acuan bagi kepala daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk menyelamatkan masyarakat sebelum tsunami yang diakibatkan aktivitas gempa terjadi," tuturnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya