Bersedekah dari Hasil Penjualan Sampah

S4-25
21/2/2019 08:50
Bersedekah dari Hasil Penjualan Sampah
(Dok. KLHK)

GERAKAN Shadaqah Sampah Kampung Brajan kini memiliki sekitar 150 nasabah. Bank sampah inisiasi Masjid Al-Muharram ini berlokasi di Jalan Ngestiwidi Brajan RT 02 RW 02 Kelurahan Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Menurut Founder dan Program Manager Gerakan Shadaqah Sampah Kampung Brajan, Ananto Isworo, timbulan sampah yang dikelola pihaknya sekitar 900 kg/bulan (sampah anorganik).
“Pengurus bank sampah ada 30 orang yang bekerja secara sukarela. Mereka tidak digaji, hanya diberikan makan siang,” ujar Ananto.

Untuk operasional, Gerakan Shadaqah Sampah memiliki motor sampah dan mobil pikap. Kantornya merupakan bangunan permanen dengan luas 30 meter persegi.

Bank sampah itu tidak berjalan sendiri. Ada pendampingan juga dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sampah yang dikumpulkan hanya sampah anorganik dan sampah elektronik.
Sumber sampah berasal dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Hotel Tembokrejo, kantor-kantor di daerah Bantul, dan tiga perumahan.

Sampah anorganik dikumpulkan pada minggu pertama dan kedua setiap bulan. Akan tetapi, warga sekitar masjid dapat mengumpulkan sampah anorganik setiap hari pada pukul 08.00-11.00 WIB.

Sesuai namanya, Gerakan Shadaqah Sampah mengupayakan pelaksanaan ajaran agama Islam berupa sedekah. Hasil penjualan sampah anorganik dipergunakan untuk pemberian sembako dengan nilai per paket sebesar Rp50 ribu kepada janda, duda, dan fakir miskin.

Ada pula santunan kesehatan Rp500 ribu/orang untuk orang tidak mampu dan beasiswa pendidikan bagi relawan yang membutuhkan setiap 3 bulan sekali. Uang hasil penjualan juga digunakan untuk biaya operasional seperti perawatan kendaraan dan makan siang relawan.


Omzet

Tidak jauh dari Bantul, berdiri pula Bank Sampah Induk Kelompok Kerja Kelola Sampah (K3S), tepatnya di Jalan Jatikuning RT 38 RW 11, Kelurahan Ngoro-oro, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Direktur K3S Siti Rahmawati menjelaskan bahwa omzet bank sampah tersebut mencapai Rp28 juta/bulan dengan keuntungan bersih Rp1 juta-Rp3 juta/bulan.

“Nasabah kami terdiri atas 51 bank sampah unit dan 1.396 keluarga.  Timbulan sampah yang dikelola sekitar 33.664,95 kg/tahun (sampah anorganik) dan 320 kg/tahun (sampah organik),” tutur Siti.

Pengurus K3S sebanyak 11 orang. Sampai kini, K3S memiliki motor sampah, truk, dan rumah kompos. Bank sampah ini menjadi binaan dinas lingkungan hidup atau dinas kebersihan.

Ada pendampingan lain dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (UAD) setiap 2-3 bulan sekali melalui fakultas kesehatan lingkungan dan fakultas kesehatan masyarakat.
Pendampingan berupa pembinaan oleh mahasiswa KKP/KKN dalam pembuatan briket dan cara membuat media tanam. Selain itu, pihak UAD memberikan bantuan berupa komputer untuk membantu proses administrasi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya