Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIPERKENALKAN pada 450 Sebelum Masehi (SM), 'Tao Te Ching' dapat diartikan sebagai 'jalan kebajikan', antara lain mengajarkan pemahaman bahwa 'hidup dan mati, lahir dan berkembang bersama'.
Kemudian dijelaskan pula, 'cara terbaik untuk hidup ialah menjadi air, kearifan alam'.
Dalam penjelasannya tentang bijaksana disebutkan 'orang bijak menenangkan pikiran dan membuka hati, dituntun oleh batin dan bukan pandangan orang lain'.
'Menjalani hidup dengan menempatkan diri pada kehormatan dan bertindak tanpa pamrih. Martabat adalah limpahan harta dalam batin'.
Demikian antara lain ungkapan isi buku karya dua Guru Besar dari Universitas Moestopo dan Universitas Gadjah Mada.
Acara bedah buku karya Prof Dr Rudy Harjanto MSn, Rektor Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta dan Prof Dr Lasiyo MA, Ketua Departemen Filsafat Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta dengan Judul 'Filsafat Kehidupan dalam Perspektif Tao Te Ching Lao Tsu', menandai diluncurkannya sebuah khasanah literatur Filsafat Timur yang saat ini masih langka.
Prof Dr M Mukhtasar S MHum PhD of Arts, Guru Besar Post Graduate Filsafat UGM spesialis Filsafat Timur, hadir sebagai pembedah buku. Sedangkan moderator acara Drs Budisutrisna MHum, dari Fakultas Filsafat UGM.
Acara bedah buku berlangsung di Gedung Notonagoro Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, Rabu (13/2). Hadir dalam acara tersebut para alumni, pengajar, dan pejabat struktural kedua universitas.
Dekan Fakultas Filsafat UGM, Dr Arqom Kuswanjono, saat membuka acara bedah buku, mengemukakan, nilai-nilai agama seperti cinta, kerendahan hati, dan kesederhanaan ada pada 'Tao'.
Prof Lasiyo, pun menjelaskan isi bukunya tersebut. Menurut dia, jalan kehidupan berawal dari Tao menuju Tao, mencapai kulminasi Tao, dan berakhir pada Tao.
Taoism menunjukkan jalan yang harus ditempuh makhluk mengikuti hukum alam, yaitu keserasian, keharmonisan hidup dengan lingkungannya.
Prof Mukhtasar berpendapat, Taoism sebagai kosmosentrisme justru berkembang di kalangan masyarakat Korea. "Tidak ada bangsa yang menerapkan ajaran Tao dalam kehidupan masyarakatnya.
Orang Korea menghayati Taoism dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Sementara Prof Rudy Harjanto mengemukakan bahwa filsafat merupakan renungan tentang kebenaran.
Membentuk karakter manusiawi penuh keharmonisan, sehingga relevan diterapkan pada era 'society 5.0' seperti dikemukakan oleh Shinzō Abe.
"Era revolusi industri 4.0 dengan ciri-ciri berkembangnya internet, teknologi baru dalam ilmu data, artificial intelligence, robotic, cloud, dan teknologi nano, mesti diawaki oleh manusia dalam masyarakat yang santun penuh keseimbangan.
Manusia senantiasa berubah, berkembang menyesuaikan diri kepada perubahan kehidupan. Tidak ada sesuatu yang tetap," katanya.
Saat ini, beberapa orang berbicara sewenang-wenang, dan pernyataannya itu, berkat teknologi, beredar cepat memenuhi atmosfer kehidupan. Dengan mudah memicu gejolak ketegangan.
Selain itu budi pekerti kebaikan sudah semestinya dihidupkan, ditanamkan sejak usia dini. Sehingga karakter keseimbangan diri mengemuka dalam individu dan kelompok masyarakat.
Demikian keharmonisan kehidupan masyarakat terbangun dari keluarga, kelompok, mengimbas ke masyarakat bangsa mencapai masyarakat dunia, yang telah terangkai dengan jaringan komunikasi digital. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved