Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEHANGATAN tercipta di rumah berdinding anyaman bambu milik salah satu petani kopi Desa Tambakjaya, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat.
Aroma secangkir kopi yang baru saja diseduh dari dapur tuan rumah memenuhi setiap sudut ruangan.
Hangatnya memecah dinginnya udara di ketinggian 900 mdpl itu. Kopi yang disajikan bukan kopi biasa, melainkan kopi robusta organik berlabel Kopi Sholawat yang dibudidayakan tanpa menggunakan pupuk kimia. Aromanya lebih tajam, dihasilkan dari bodi kopi yang cukup tebal. Rasanya pun lebih nendang, tetapi tetap ramah di lambung penikmatnya.
Namun, keyakinan akan manfaat kopi organik itu tidak cukup mampu mendongkrak popularitas biji kopi robusta organik. Tujuh tahun membudidayakannya, Muhamad Syafei, 39, bersama 25 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Muda Margorahayu belum juga menemukan pasar potensial.
Bahkan, biji kopi organik masih dihargai sama dengan kopi nonorganik, yaitu Rp30 ribu-Rp45 ribu per kg. Harga itu jauh dari ekspektasi petani yang mengharap harga Rp60 ribu per kg.
"Padahal, proses budi daya lebih berat. Kita pakai pupuk kompos olahan sendiri. Itu pun belum mampu mencukupi kebutuhan ideal. Tanpa obat-obatan kimia. Gulma dan hama pengganggu lebih sering muncul, jadi harus lebih telaten dan sering dibersihkan. Produktivitas pun jauh lebih rendah dari kopi non-organik," ujar pria yang akrab di sapa Ujang itu.
Untuk proses pemupukan, kelompok tani Muda Margorahayu mengandalkan kotoran 30 kambing milik kelompok. Kebutuhan pupuk 1 hektare lahan harusnya lebih dari 1 ton. Namun, petani hanya mampu memberikan 900 kg per hektare.
Akibatnya, produktivitas kopi organik sangat rendah. Saat cuaca mendukung, produksi maksimal hanya 6 kuintal per hektare. Padahal, produksi kopi nonorganik bisa mencapai 1,7-2,5 ton per hektare.
"Karena itu, kami belum berani menerapkan 100% pertanian organik. Dari 32 hektare lahan milik kelompok, hanya 12 hektare lahan yang khusus untuk budi daya kopi organik. Sisanya masih nonorganik dan dipetik asalan," papar Ujang.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung memberikan perhatian khusus terhadap komoditas kopi.
Beberapa stimulus diberikan untuk membangkitkan gairah petani kopi di Lampung, termasuk pengembangan kopi robusta organik.
"Ke depan BI akan membantu kopi organik menembus pasar domestik hingga internasional. Sebagai langkah awal, kami akan mencari keunggulan kopi organik berdasarkan hasil penelitian agar ada bukti ilmiah. Ini akan menjadi modal untuk mempromosikan robusta organik," ujar Kepala Perwakilan BI Lampung Budiharto Setyawan saat menyerahkan bantuan kepada petani kopi Lampung Barat, Jumat (8/2). (Eva Pardiana/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved