Uhamka Gelar Seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah

Syarief Oebaidillah
07/2/2019 22:55
Uhamka Gelar Seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah
(Dok Uhamka)

DI era revolusi industri 4.0 menuntut perubahan yang cepat di segala lini kehidupan. Revolusi di bidang teknologi informasi yang begitu masif membuat semua menjadi mudah, cepat, mengglobal, sekaligus instan.

Namun demikian, ibarat dua mata pisau, kemudahan-kemudahan yang ditimbulkan hasil revolusi industri 4.0 menghasilkan dua dampak sekaligus, yaitu sesuatu yang bersifat konstruktif (membangun/kebajikan) dan destruktif (merusak/keburukan).

Untuk lebih memacu hal-hal yang berifat konstruktif dan sekaligus membendung dampak destruktif revolusi teknologi ini, perlu orientasi nilai pendidikan yang kuat untuk fondasi pembangunan.

Berangkat dari hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) menggelar Seminar Nasional Pra-Tanwir Muhammadiyah dengan tema 'Beragama dan Pendidikan yang Mencerahkan', pada Kamis (7/2), di Kampus Uhamka Jakarta.

Hadir sebagai pemakalah dalam seminar tersebut Dr Abdul Muti MEd (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah), H Aly Aulia Lc (Direktur Mualimin Yogyakarta), Dr Desvian Bandarsyah MPd (Dekan FKIP Uhamka), Dr H Biyanto MHI (PWM Jawa Timur, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya), M Syaikhul Islam (Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya), dan Dr Mohamad Ali MPd (Universitas Muhammadiyah Surakarta).


Baca juga: Pemerintah Terus Kuatkan Program Vokasi Link and Match


Acara seminar dibuka Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr H Dadang Kahmad.

Rektor Uhamka, Prof Dr Gunawan Suryoputro, dalam sambutannya, mengatakan bahwa di era saat ini, di era persaingan yang semakin ketat, dibutuhkan kualitas sumber daya manusia yang semakin tinggi.

Untuk itu, dunia pendidikan, yang merupakan ajang penggodokan sumber daya manusia, dituntut semakin kreatif dan inovatif. Namun demikian, mutu manusia Indonesia tampaknya masih ketinggal jauh.

"HDI (Human Development Index) kita masih rendah. Kita berada di rangking 116 dari 89 negara," kata Gunawan Suryoputro melalui keterangan tertulis yang diterima hari ini.

Untuk itu, menurut dia, memang dibutuhkan orientasi pendidikan yang baru untuk menjawab tantangan tersebut. Dari seminar ini, diharapkan muncul rumusan-rumusan yang baru yang bisa memberi arah baru bagi pendidikan di Indonesia, khususnya di Muhammadiyah.

Hasil seminar ini juga akan dibukukan untuk dibawa ke acara Tanwir Muhammadiyah, di Bengkulu, 15-17 Februari 2019.

"Dengan begitu, rekomendasi seminar diharapan akan memiliki gaung yang menasional," ungkap Gunawan. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya