Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS demam berdarah dengue (DBD) terus bertambah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, tahun ini per 3 Februari jumlah kejadian DBD di seluruh Indonesia ada 16.692 kasus dengan 169 kematian. Sekitar 90% penderitanya ialah anak-anak usia di bawah 15 tahun.
Menurut dokter spesialis anak, dr Martinus M Leman SpA, anak memang lebih rentan terjangkit DBD ketimbang orang dewasa sebab anak-anak umumnya tidak mengetahui risiko gigitan nyamuk.
Anak yang sudah menderita DBD bisa dideteksi pada awal-awal tergigit nyamuk penular DBD, Aedes aegypti. Gejala DBD umumnya berlangsung selama tujuh hari. Yang perlu diwaspadai utamanya ialah demam tinggi.
“Pada anak biasanya gejala baru akan muncul setelah digigit nyamuk 1-3 kali. Gejala yang sering muncul, tiba-tiba demam tinggi (sekitar 40 derajat celsius), kemudian anak malas bergerak atau lesu karena demam itu disertai nyeri otot,” kata Martinus saat dihubungi pada Sabtu (2/2).
Gejala lain yang turut menyertai demam ialah nafsu makan menurun dan anak mengeluh sakit kepala. “Kalau demam biasa, anak biasanya masih aktif, tapi kalau DBD dia biasanya malas bergerak atau lesu,” tutur Martinus.
Setelah tiga atau empat hari pertama fase gejala awal itu, pada hari keempat hingga kelima, demam biasanya turun tetapi kondisi tubuh bisa semakin lemas. Orangtua harus segera membawa anak ke dokter untuk memastikan diagnosis. Jika benar DBD, anak perlu dirawat di RS.
“Agar kondisinya bisa dipantau dengan pengecekan di laboratorium untuk memantau apakah ada komplikasi perdarahan atau tidak.”
Jika gejala DBD tidak cepat dikenali atau tidak segera ditangani, kondisi anak bisa menjadi lebih parah. Anak bisa mengalami dehidrasi, perdarahan berat, dan penurunan tekanan darah yang cepat (syok), hingga kematian.
“DBD sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya. Setelah hari keenam dan ketujuh, badan anak segar lagi. Tapi komplikasi yang timbul selama proses serangan virus perlu diwaspadai. Kalau terjadi perdarahan, fatal akibatnya karena aliran darahnya tidak berfungsi normal,” terang dokter yang berpraktik di RS Harapan Bunda Jakarta Timur itu.
Hingga saat ini, belum ada obat yang bisa membunuh virus dengue dalam tubuh, juga belum ada vaksinasi yang mampu mencegah infeksi virus DBD.
“Karena itu, upaya pencegahan dan pemahaman mengenai gejalanya amat penting untuk menghindari kematian akibat DBD,” kata dokter penyandang gelar Diploma in Tropical Medicine and Hygiene tersebut.
Jaga kebersihan
Secara terpisah, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono menyatakan DBD tahun ini merebak karena sejumlah faktor, antara lain tingginya curah hujan yang membuat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti kian cepat. Selain itu, lanjut Anung, kelengahan masyarakat juga turut berkontribusi.
“Kebersihan di lingkungan masyarakat tidak terjaga. Pemberantasan sarang nyamuk tidak maksimal,” ungkapnya.
Meski jumlah kasus meningkat, menurut Anung, kejadian DBD saat ini masih bisa dikendalikan daerah. Seperti Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, telah mencabut status kejadian luar biasa (KLB). Saat ini tersisa empat daerah yang masih menetapkan KLB, yakni Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Barat di NTT, Kabupaten Ponorogo di Jawa Timur, dan Provinsi Sulawesi Utara.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan dari segi jumlah, DBD kali ini belum sebanyak 2016. Kala itu pemerintah menetapkan status KLB secara nasional. Tercatat, ada 204.171 kasus serta 1.958 orang meninggal di tahun itu.
“Sejak itu, tren DBD menurun. Pada 2017 ada 68.407 kasus dan 2018 sebanyak 53.075 kasus,” ujarnya.
Siti mengingatkan, cara yang paling efektif mencegah DBD ialah pemberantasan sarang nyamuk. Nyamuk penular DBD bersarang di genangan air bersih. Karena itu, perilaku hidup bersih harus dilakukan, seperti menguras bak mandi secara rutin dan tidak membiarkan ada genangan air apa pun di sekitar rumah.
“Sebisa mungkin masyarakat harus menghindari gigitan nyamuk, seperti tidur dengan memasang kelambu, menggunakan losion antinyamuk, dan menanam tanaman pengusir nyamuk,” sarannya. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved