Ekstrem tetapi Terukur

MI/Siti Retno Wulandari
05/4/2015 00:00
Ekstrem tetapi Terukur
(MI/ADAM DWI)
MINAT pada olahraga menantang memang kerap menimbulkan pro dan kontra. Bukannya melarang karena tidak baik, melainkan justru karena banyak kekhawatiran akan risiko yang terjadi. Namun, rupanya, dengan dukungan penuh orangtua, anak justru merasa semakin percaya diri dan mampu membuktikan yang terbaik. Lisa Alfariani, 39, awalnya merasa takut melihat putrinya, Shahnaz Gunantika Mumtaz, 9, beraksi dengan sepedanya. Bukan bersepeda santai, Shahnaz, bersepeda pada trek atau jalur yang menantang. Menanjak, menurun, dan berliku. Seperti itulah medan yang dihadapi Shahnaz. Ketakutan Lisa didasarkan pikiran bahwa karena Shahnaz perempuan, apabila jatuh dan terluka, akan berbekas.

Namun, keinginan Shahnaz yang sangat kuat dan pengertian yang diberikan suaminya, Cecep Gumilang, membuat Lisa yakin akan kemampuan sang putri. "Deg-degan, takut. Namun, setelah melihat Shahnaz menikmati dan suami terus memberi tahu energi Shahnaz harus disalurkan, ya, saya mulai berani," ucap Lisa yang setiap Kamis dan Minggu selalu menemani Shahnaz berlatih, Jumat(3/4). Ketakutan dan kekhawatirannya juga tertutupi karena orangtua lainnya kerap memberikan dukungan kepada Shahnaz dan anak-anak lainnya. Meskipun masih sering merasa takut, Lisa selalu menemani dan mendukung putrinya saat berlatih ataupun mengikuti kejuaraan. "Bunda, kalau takut, enggak usah lihat aku," tegas Lisa menirukan ucapan sang putri. Jika Shahnaz masih melihat dirinya berada di barisan penonton, ia akan segera melambaikan tangan meminta dirinya menjauh dari barisan depan penonton.

Tetap risau
Gilang, sang ayah, mengaku tidak heran dengan minat putrinya. Sejak kecil Shahnaz sudah dibawanya bersepeda menyusuri jalan dan jika ditinggal, putrinya akan mengamuk. Meskipun tidak heran, bukan berarti Gilang lepas dari rasa takut. Namun, ia kembali percaya pada kapasitas sang putri. Ia pun tidak mau menyia-nyiakan bakat Shahnaz sehingga ia membekali dengan pelatih yang baik. "Shahnaz itu enggak bisa diam, beda dengan anak-anak pada umumnya. Karena itu, energinya harus disalurkan daripada tidak baik untuk perkembangan," ucapnya. Shahnaz sendiri mengaku tidak pernah takut jatuh ataupun terluka. Sakit pasti dirasakannya, tetapi bocah yang kini duduk di kelas 3 SD itu tidak mau mendramatisasi rasa sakit.

Ia ingin terus bersepeda dan menjadi atlet. "Enggak pernah merasa capek, senang bersepeda dan semangat," ucapnya. Sementara itu, Ahmad Rais Raffi, 15, mengecap rasa balap motor, motocross, sejak kelas 5 SD. Awalnya, ia sering diajak menonton balap motocross oleh sang ayah yang juga gemar olahraga tersebut. Setelah beberapa kali ikut menonton, Raffi malah kepincut dan meminta dibelikan motor dengan spesifikasi untuk berlatih kegiatan motocross. "Pernah jatuh lalu tangan kiri patah, tetapi ya sudah, seminggu habis operasi sudah berlatih kembali. Senang karena bermanfaat untuk kesehatan dan aku juga punya kegiatan positif sehingga tidak sekadar nongkrong-nongkrong," cetus siswa kelas 1 SMA ini.
Raffi pun kerap menginap di tempatnya berlatih motocross.

Tukar pikiran dan teknik pun kerap menjadi perbincangan dengan sesama teman. Bekali dengan ilmu dan alat yang baik Raiden Raga Adam, 9, juga merasakan hal yang sama, tidak pernah takut menjajal trek atau lajur yang berupa tanjakan, gunungan, hingga berkelok. Pernah suatu kali ia terjatuh dan setangnya mengenai dada, bukannya kesakitan, Raiden malah terlihat kesal lantaran tertinggal dari teman-temannya. Saat akan mengikuti perlombaan, Raiden tak hanya berlatih, tetapi juga menonton video yang menayangkan aksi para pesepeda BMX Race. Aksi yang baru ia ketahui akan dicoba saat proses latihan. Sejak ia terjatuh, kedua orangtuanya Adhe dan Adam berkomitmen untuk membekali anaknya dengan perlengkapan yang memadai dan baik.

Agar bisa meminimalkan rasa sakit akibat terjatuh saat berlatih dan lomba. "Perlengkapan harus aman. Itu tidak bisa ditawar. Pastinya peran ayah lebih besar karena kegiatan menantang seperti ini ayah yang tahu. Saya penyemangat secara psikologis," jelas Adhe yang mengaku jarang mengikuti Raiden lomba atau berlatih, selain karena bekerja, dirinya masih sulit menyembunyikan rasa takut. Dukungan finansial Ibu Raffi, Furi Komalasari, menjelaskan sebesar apa pun biaya untuk kegiatan Raffi sebisa mungkin dipenuhi. Berbagai macam perlengkapan pun harus dibekali dengan kualitas yang terbaik. Apa pun kegiatan positif yang diminati Raffi akan selalu didukung. "Takut pasti. Kalau lihat dia lomba, langsung mules. Saya biasanya akan duduk karena tidak kuat, tetapi harus didukung dengan materi dan psike," ucapnya. Raffi, kata Furi, juga pernah masuk sekolah sepak bola sebelum berkutat di dunia motocross.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya