Musim Hujan Diprediksi Sebulan Lagi

Dhika Kusuma Winata
01/2/2019 07:30
Musim Hujan Diprediksi Sebulan Lagi
(Ilustrasi)

WARGA masyarakat di Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua kembali diingatkan soal potensi banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi hingga pertengahan Februari.

Menurut Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto, kurun akhir Januari hingga pertengahan Februari akan menjadi puncak musim penghujan di semua wilayah tersebut.

"Hampir sebagian besar wilayah Jawa masih diguyur hujan tinggi (150-300 milimeter) selama Februari. Musim hujan diperkirakan terjadi hingga Maret dengan intensitas yang menurun. Fluktuasi ini membuat akumulasi hujan di wilayah timur juga tinggi," kata Siswanto di Jakarta, kemarin.

Akan tetapi, dalam mengantisipasi bencana hidrometeorologi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai kita masih kalah cepat dari laju kerusakan lingkungan yang terjadi.

Tidak ayal kejadian seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung masih banyak memakan korban jiwa dan kerusakan berat di beberapa wilayah seperti di Sulsel baru-baru ini.

"Bencana banjir seperti di Sulsel ialah akumulasi kerusakan lingkungan dae-rah aliran sungai (DAS Jeneberang) bertahun lamanya," ujar juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, kemarin.

Sepanjang Januari, BNPB mencatat jumlah bencana lebih banyak daripada periode sama tahun lalu. Sepanjang Januari, terdapat ratusan bencana yang menyebabkan 94 orang meninggal dan hilang. Bencana hidrometeorologi mendominasi seperti angin puting beliung 198 kejadian, banjir 84 kejadian, dan tanah longsor 76 kejadian.

"Kejadian bencana meningkat 57,1% dari Januari 2018. Korban jiwa dan hilang juga melonjak 308,7% jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Di Sulawesi Selatan, 79 orang meninggal dan seorang hilang akibat banjir, puting beliung, dan tanah longsor. Selain itu, puluhan orang terluka dan ribuan mengungsi," lanjut Sutopo.

Ke depan, BNPB melibatkan sejumlah pakar dari perguruan tinggi untuk mengkaji mitigasi bencana. Tugas tim antara lain memberi masukan mengenai upaya pengurangan risiko bencana. Tim akan melakukan riset mengenai analisis forensik pascabencana di wilayah terdampak. Evaluasi penyebab bencana akan digunakan untuk perencanaan mitigasi.

Gagal panen
Tingginya intensitas hujan dua hari terakhir mengakibatkan banjir di empat kecamatan di Kabupaten dan Kota Pasuruan. Paling parah terjadi di perbatasan kedua daerah akibat luapan Sungai Welang di Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, kemarin.

Luapan air Sungai Welang merendam ratusan rumah di Kelurahan Karangketug dan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Di wilayah Kabupaten Pasuruan, banjir merendam ratusan rumah di Desa Tambakrejo, Kraton.

Sementara itu, petugas penanggulangan bencana (P2B) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Ikhwan Lubis, mengungkapkan ketinggian banjir saat ini mencapai 20 sentimeter hingga 1 meter.

Dari hasil pendataan petugas, banjir telah merendam 61 rumah dengan jumlah jiwa terdampak 258 orang dari 71 kepala keluarga. Selain itu, banjir menyebabkan rusaknya 150 hektare sawah dan tambak.

"Kerugian akibat banjir ini diperkirakan Rp500 juta," kata Ikhwan seraya menambahkan bahwa ratusan petani  tidak dapat menikmati hasil panen dari sawah mereka. (AU/AB/CS/RF/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya