Pola Gempa Bergeser ke Indonesia Barat

Dhika Kusuma Winata
01/2/2019 08:30
Pola Gempa Bergeser ke Indonesia Barat
(itb.ac.id)

TREN kejadian kegempaan di Tanah Air berubah. Ribuan peristiwa gempa yang dulu kerap terjadi di bagian timur Indonesia, kini bergeser ke bagian barat Indonesia. Kecenderungan itu berpotensi mengancam karena wilayah barat lebih banyak penduduknya.

"Sebelum gempa Aceh pada 2004, gempa 78% terjadi di timur, sedangkan di wilayah barat hanya 22%. Setelah gempa Aceh, berubah gempa di wilayah barat 52% dan di timur 48%. Itu terjadi pada periode 2004-2019," ungkap peneliti geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano dalam diskusi Disaster Outlook 2019 di Jakarta, kemarin.

Belum bisa dipastikan apakah tren tersebut akan terus meningkat. Hal itu masih menjadi misteri yang perlu diungkap peneliti. Namun, Irwan berpendapat, peluang itu tetap ada. "Kita tidak pernah tahu. Perilaku gempa bisa berubah-ubah," ucapnya.

Bencana akibat gempa, lanjutnya, kini perlu diperhatikan lebih serius. Statistik kerugian bencana dari berbagai lembaga menunjukkan pada kurun 1965-1990 bencana yang paling dianggap mengerikan karena memakan banyak korban ialah letusan gunung berapi. Namun, sejak 1990 frekuensi serta dampak bencana gempa lebih banyak dan destruktif.

Gempa, lanjut Irwan, perilakunya juga berubah, tidak lagi selalu peristiwa tunggal dan kerap disusul dengan kejadian lainnya seperti tsunami dan likuefaksi. Hal itu terjadi di Palu yang memakan korban lebih dari 2.000 jiwa dinyatakan meninggal dunia.

"Gunung api tidak lagi terlalu dianggap jadi ancaman karena mitigasinya sudah baik. Sekarang problemnya ialah mitigasi bencana gempa yang harus diperhatikan serius," katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 11 ribu gempa terjadi sepanjang 2018. Dari 295 sesar aktif yang ada di Indonesia, terdapat sejumlah area klaster seismik yang jarang terjadi gempa, antara lain di Nias, Mentawai, Selat Sunda, Jawa Tengah-Jawa Timur, Bali, NTT, Banda Selatan, Sulawesi Utara, dan sekitar Pulau Seram.

"Diduga di wilayah-wilayah ini sedang terkumpul energi besar yang suatu saat bisa terlepas dan gempa besar," sebut Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan pemerintah daerah di wilayah rawan gempa. Khususnya mengenai pengurangan risiko dengan bangunan tahan gempa.

"Yang membunuh bukan gempa, tapi bangunannya," tuturnya.

Sesar Kendeng-Baribis

Peneliti geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja mengatakan gempa yang terjadi di wilayah Sumatra disebabkan Sunda Backthrust di antara lempeng Indo-Australia dengan Eurasia dan sesar Sumatra.

"Di Jawa juga banyak se-sar aktif, seperti sesar Lembang. Yang terbaru ialah keberadaan sesar Kendeng-Baribis yang membentang mulai dari Surabaya, Semarang, Cirebon, Subang, dan diduga sampai Jakarta dan Anyer."

Namun, keberadaan sesar Kendeng-Baribis itu masih berupa dugaan dan harus diteliti lebih lanjut. (H-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya