Indonesia Masuk Zona Darurat Gizi

Try/M-6
05/4/2015 00:00
Indonesia Masuk Zona Darurat Gizi
Pasien penderita gizi buruk.(ANTARA/Ahmad Subaidi)

DIREKTUR Bina Gizi Kementerian Kesehatan Doddy Izwardy menegaskan Indonesia saat ini masuk zona darurat gizi.

"Dari 117 negara di dunia, Indonesia masuk darurat gizi dengan tiga dampak yang ditimbulkannya pada tumbuh kembang anak," kata dia di Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin.

Ketiga dampak yang ditimbulkan darurat gizi ialah anak mengalami stunting (tinggi badan tidak sesuai dengan usia atau bertubuh pendek), berbadan kurus yang memicu gizi buruk, dan berbadan gemuk yang memicu obesitas.

Untuk perbaikan generasi dalam mencegah terjadinya stunting, kata Doddy, dibutuhkan waktu sekitar 100 tahun sehingga sudah saatnya perbaikan gizi itu dimulai dari sekarang.

Berdasarkan data Global Utusan Report yang dilaporkan ke Bappenas, diketahui jumlah bayi dan balita yang mengalami stunting di Indonesia mencapai 8,8 juta jiwa dari sekitar 45 juta jiwa total balita.

Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, lembaga donor asal Amerika Serikat, yakni Millennium Challenge Account (MCA), menyalurkan dana hibah sebesar US$131,5 juta atau setara sekitar Rp1,7 miliar di Mamuju, Sulawesi Barat.

Lokasi tersebut dipilih karena di daerah itu terdapat sekitar 48% bayi dan balita yang mengalami stunting.

Di sela peninjauan ke lokasi pilot project di Posyandu Al-Ikhlas di Desa Bambu, Kabupaten Mamuju, Sulbar, CEO of Millennium Challenge Corporation (MCC) Dana J Hyde mengatakan dana pendampingan itu diperuntukkan peningkatan SDM kader posyandu, paramedis, dan pihak terkait lainnya dalam jangka lima tahun.

Kurang pengetahuan

Saat dihubungi terpisah, Dirjen Bina Gizi Anung Sugihanto mengatakan pengetahuan masyarakat akan makanan yang sehat masih kurang.

"Saya atau kementerian tidak bisa mengontrol makanan seseorang. Harus dari orang itu sendiri. Sayangnya, tingkat pengetahuan kita akan makanan bergizi dan pengolahannya sangat kurang," ujarnya.

Anung menambahkan kontribusi Kementerian Sosial dalam hal ini sesungguhnya hanya 30% berupa konseptual intervensi spesifik, seperti pemberian ASI eksklusif pada balita hingga pemberian vitamin.

Sisanya intervensi sensitif berasal dari sektor di luar kesehatan, seperti kemiskinan, kebutuhan air bersih, perilaku cuci tangan, dan perilaku makan.

Anung lalu melihat ada perubahan pola makan yang sangat masif di Indonesia.

Berdasarkan survei diet total, belanja makan yang dilakukan seseorang sebanyak 20% untuk karbohidrat, 15,6% untuk makanan instan, serta 6,5%-6,8% digunakan untuk membeli rokok dan alkohol.

Adapun belanja untuk sayur, sumber protein hewani, dan buah hanya 2%-3%.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya