Tanggung Jawab Mulia di Usia Belia

Farhanuddin
05/4/2015 00:00
Tanggung Jawab Mulia di Usia Belia
Ali (kedua dari kanan) bersama ibunya yang buta, beserta adik dan kakaknya.(MI/FARHANUDDIN)

UDARA dingin sisa semalam masih menyelimuti sebuah rumah papan sederhana di Dusun Toerang Batu, Desa Battetangga, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Kokok ayam jantan memanggil fajar membangunkan laki-laki mungil itu dari tidur lelapnya.

Meski kantuk masih bergelayut, Muhammad Ali memulai aktivitas di subuh dengan memasak nasi, menyapu rumah dan halaman, mencuci pakaian, serta pekerjaan rumah tangga lainnya.

Tidak seperti anak-anak sebayanya yang berusia 6 tahun, Ali tidak bisa bermain sepanjang hari.

Bocah TK B itu harus melakukan pekerjaan rumah sehari-hari.

Tidak itu saja, Ali juga harus merawat Ammi, ibunya yang menderita buta dan gangguan pendengaran, serta mengurus kakaknya, Jumriah, 12, yang menggalami gangguan mental, dan Aris, adiknya yang berusia 3 tahun.

Ali ialah anak ketiga pasangan Sari dan Ammi.

Kakak pertamanya, Salmiati, 14, telah bekerja menjadi pembantu rumah tangga keluarga lain agar tetap bisa bersekolah.

Perjuangan Ali mengurus ibu, kakak, dan adiknya itu dimulai ketika ayahnya, Sari, meninggal di usia 70 tahun karena sakit.

Ibu Ali telah menderita buta dan tuli sejak belasan tahun lalu.

Praktis, Ali pun menggantikan peranan ayahnya sebagai kepala rumah tangga.

"Saya tidak bersedih. Saya hanya terus berdoa agar Tuhan terus memberi kekuatan, agar saya bisa merawat ibu, kakak, dan Aris," ujar Ali dengan nada datar saat ditemui, kemarin.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, sepulang sekolah, Ali biasanya mencari kayu dan daun untuk pembungkus nasi yang kemudian dijual ke warung.

Tentu saja itu tidak cukup.

Beruntung, banyak tetangga Ali yang iba dan membantu dengan memberi makanan setiap hari.

"Kami merasa sudah seperti keluarga, kalau soal makan sehari-hari, biasanya warga bergantian memberi makanan kepada Ali dan keluarganya," ujar Hanariah, salah seorang warga.

Hanya bisa pasrah, Ammi pun mengaku sedih karena anaknya harus menanggung beban hidup yang cukup berat.

Namun, ia bangga memiliki Ali yang dengan ikhlas dan sabar merawat dirinya dan saudara-saudaranya yang memiliki keterbatasan.

Ali lebih dari seorang anak.

Bocah kecil itu telah menjadi mata dan telinga bagi Ammi untuk menjalani hidup.

"Ali seharusnya tidak menanggung beban seperti ini, tapi saya juga sakit-sakitan tidak mampu lagi bekerja. Yang membuat saya bisa bertahan sekarang ialah keyakinan pada Tuhan dan rasa sayang kepada anak-anak," ujar Ammi lirih seraya meneteskan air mata haru.

Walau setiap hari Ali disibukkan merawat ibunya dan mengurus saudara-saudaranya, ia tetap tidak lupa untuk bersekolah untuk mengejar cita-citanya menjadi tentara.

"Hebatnya lagi, Ali tergolong anak cerdas di kelas," tukas Seniwati, guru sekolah Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Toerang Batu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya