Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan tiga pesan utama guna meningkatkan semangat dalam bekerja, yakni bekerja didasari untuk saling menumbuhkan semangat kebersamaan, melayani, dan berintegritas.
“Kami mengucapkan selamat berbahagia kepada Bapak dan Ibu yang merayakan Natal, dan juga saya mengucapkan selamat Tahun Baru 2019.
Semoga di tahun yang baru ini sesuai dengan tema perayaan Natal yakni kebersamaan, pelayanan, dan berintegritas menjadi bagian dari semangat kita di Kemendikbud untuk melayani peserta didik, guru-guru, dan seluruh sekolah yang ada di Tanah Air di mana pun anak-anak kita berada,” kata Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi, dalam sambutannya pada Perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di lingkungan Kemendikbud, di Jakarta, belum lama ini.
Inspektur Investigasi Itjen Kemendikbud yang juga Ketua Penyelenggara, Bernard Purba, menyampaikan tema yang diangkat para perayaan tahun ini ialah 'Yesus Kristus Hikmat bagi Kita', dengan subtema 'Melalui Hikmat Natal, Kita Tingkatkan Kebersamaan dalam Pelayanan Pendidikan dan Kebudayaan yang Berintergritas'.
Menurut Bernard ada tiga kunci yakni kebersamaan, pelayanan, dan berintegritas. Memahami pesan tersebut, kata Bernard, bekerja dalam kebersamaan dengan semangat gotong royong sangat dibutuhkan dengan didasari semangat untuk melayani dan mengedepankan kejujuran atau integritas.
"Sesungguhnya kita hadir di sini bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dengan mengedepankan integritas,” cetusnya.
Tiga pesan Natal tersebut pun disampaikan Romo Antonius Benny Susetyo. Menurutnya, integritas dalam pendidikan menjadi yang utama ketika mendidik insan-insan manusia merdeka yang memiliki kemandirian, cara berpikir, bertindak, dan bernalar.
"Maka pendidikan karakter yang bermutu dapat mendidik anak-anak kita memiliki kejujuran, memiliki budaya satria, dan mampu untuk membangun kemandirian,” ujarnya.
Pertanyaan saat ini, tutur Romo Benny, bagaimana menjadikan manusia memiliki hikmat dan kebijaksanaan dalam konteks saat ini.
“Menjadi semangat Natal adalah nyalakan kembali terang, menjadi garam dan teladan. Karena pendidikan pada dasarnya adalah mengajarkan keteladanan,” ujarnya.
Romo Benny mengingatkan dalam dunia pendidikan harus menjadikan Pancasila sebagai jiwa dan geraknya, karena Pancasila merupakan ideologi bangsa.
“Ideologi itu hanya bisa dibangun dengan kesadaran bagaimana insan-insan pendidikan menyadari tentang keutamaan hidup.
Maka Pancasila tidak sekadar pedoman, tidak hanya sekedar arah, tetapi menjadi Ideologi kebijakan dalam sistem pendidikan kita, karena disitulah rohnya mencerdaskan kehidupan bangsa dan tanah air kita,” tegas Romo Benny.
Pesan yang disampaikan Romo Benny, kata Didik, memberikan semangat untuk bisa memberikan pelayanan yang lebih. Semangat dilayani sudah tidak ada lagi di era saat ini, tetapi semangat melayani menjadi yang utama.
Dengan demikian, sekolah-sekolah, para guru, peserta didik seluruhnya mendapatkan layanan yang terbaik.
"Anak-anak di daerah terpencil, di daerah terisolir, dan di daerah terluar layanannya tidak boleh berbeda dengan anak-anak kita yang ada di daerah perkotaan, mereka harus mendapatkan layanan yang setara sehingga tidak ada perbedaan kualitas lulusan anak-anak kita di daerah tersebut dengan daerah perkotaan,” tegas Didik.
Oleh karena itu, Didik melanjutkan dengan semangat perayaan Natal 2018 dan mengawali 2019 diharapkan teman-teman di kementerian untuk semakin meningkatkan kinerja.
"Semoga pelayanan yang kita lakukan ini menunjukkan hasil yang optimal bagi anak didik kita di seluruh Tanah Air,” pungkas Didik. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved