Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEKOSONGAN obat antiretroviral (ARV) jenis kombinasi tenofovir, lamivudin, efavirens (TLE) masih terjadi di sejumlah rumah sakit (RS). Seperti di Jabodetabek, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Padahal, keberadaan obat tersebut selama ini sangat membantu orang dengan HIV/AIDS (ODHA) karena mereka cukup minum satu butir sehari. Hal itu lebih praktis daripada memakai obat ARV lepasan yang harus diminum per butir dengan dosis tenofovir 1 butir, lamivudin 2 butir, dan evavirenz 1 butir.
Menurut Indonesia AIDS Coalition, organisasi berbasis komunitas untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam program penanggulangan HIV/AIDS, menipisnya stok obat produksi India itu disebabkan kegagalan proses pengadaan yang dilakukan pemerintah tahun lalu.
"Tahun lalu, proses pengadaan dengan penunjukan langsung antara pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kimia Farma tidak menemui titik temu terkait dengan harga. Setelah itu, diadakan proses lelang terbatas dengan dua peserta, Kimia Farma dan Indofarma Global Medika, juga tidak menghasilkan pemenang," jelas Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition, Adhitya Wardhana, melalui keterangan tertulis yang diterima Sabtu (12/1).
Lalu, lanjut dia, krisis ketersediaan obat itu ditanggulangi dengan dana bantuan donor dari Global Fund pada Desember 2018 lalu. Pemerintah membeli langsung pada produsen obat di India, tetapi jumlahnya terbatas.
"Yang dibeli hanya 220 ribu botol dan hanya bisa mencukupi kebutuhan hingga April 2019," tutur Adhitya.
Menurut dia, bila setelah April 2019 masih terjadi kebuntuan proses lelang, krisis obat ARV jenis kombinasi TLE bakal semakin meluas.
"Kami harapkan, Kemenkes semestinya bukan menawarkan untuk mengganti dengan pecahan (ARV jenis lepasan). Tapi mendorong agar farmasi mau menurunkan harga. Obat ARV jenis kombinasi TLE di pasaran internasional bisa didapatkan dengan harga sekitar US$8 (sekitar Rp112.000), tapi dijual dengan harga Rp404.370 oleh Kimia Farma kepada pemerintah," tutur Adhitya.
Menekan jumlah virus
Sebelumnya, Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Engko Sosialine Magdalene mengatakan menipisnya stok obat ARV jenis kombinasi TLE dapat diatasi dengan menggunakan obat ARV jenis lepasan.
"Jadi, masih bisa menggunakan alternatif itu," ucapnya di sela-sela acara laporan akhir tahun Kementerian Kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan pada Kamis (9/1).
Engko pun mengklaim, hingga 10 bulan mendatang, stok ARV masih tercukupi. Hingga April, ODHA dapat menggunakan ARV jenis kombinas TLE. Lalu, enam bulan berikutnya dapat menggunakan ARV lepasan.
"Menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyiapkan obat sesuai kebutuhan," tukas Engko.
Di Indonesia, jumlah ODHA diperkirakan mencapai 631.635 jiwa. Individu yang mengetahui statusnya mengidap HIV berjumlah 301.959 jiwa. Yang pernah menerima pengobatan 180.843 jiwa, sedangkan ODHA yang sedang dalam pengobatan 96.298 jiwa. Dari total itu, 43.586 jiwa (42%) menggunakan obat ARV kombinasi jenis TLE.
Obat ARV harus dikonsumsi tepat waktu seumur hidup oleh ODHA untuk menekan jumlah HIV dalam tubuhnya agar mereka bisa tetap sehat. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved