Taiwan Akui Ada Calo Ilegal Perekrut Mahasiswa RI

Dhika Kusuma Winata
04/1/2019 16:23
Taiwan Akui Ada Calo Ilegal Perekrut Mahasiswa RI
(MI/Pius Erlangga)

KANTOR perwakilan pemerintah Taiwan, Taipei Economic and Trade Office (TETO) Indonesia membantah keras kabar yang menyebut 300 mahasiswa Indonesia menjalani kerja paksa di Taiwan.

Kepala TETO Indonesia John Chen membeberkan pemerintah Taiwan memberikan program beasiswa kepada mahasiswa asing termasuk Indonesia melalui kebijakan New Southbound Policy (NSP). Programnya ialah kuliah sambil magang di perusahaan.

"Ini merupakan program Industry-Academia Collaboration. Mahasiswa pada tahun diwajibkan menjalankan magang di industri. Selain itu mereka juga difasilitasi untuk kerja paruh tapi tidak wajib sifatnya. Itu untuk menambah pemasukan finansial mereka bagi mahasiswa kurang mampu," kata Chen dalam jumpa pers di kantor TETO Indonesia di Jakarta, Jumat (4/1).

Baca juga: TETO Bantah Mahasiswa Indonesia Jalani Kerja Paksa

Program beasiswa yang baru berjalan dua tahun itu diakui pada masa awal disinyalir dimanfaatkan agen-agen nakal yang hendak merekrut mahasiswa dengan program yang tidak sesuai ketentuan Kementerian Pendidikan Taiwan.

"Pada tahun pertama, kami belum punya pengetahuan mengenai itu jadi kemungkinan ada broker atau agen-agen ilegal. Kami tidak tahu jumlahnya tapi investigasi sekarang telah berjalan oleh pemerintah. Tapi mulai tahun kedua diatur ketat tidak boleh lagi pakai agen untuk penjaringan mahasiswa semuanya melalui pemerintah," jelas Chen.

Pemerintah Taiwan, ujarnya, memberikan biaya kepada para mahasiswa asing setara Rp42 juta untuk tahun pertama. Mereka juga diperbolehkan mengambil kerja paruh waktu. Sementara pada tahun kedua, mereka wajib mengambil kegiatan magang. Untuk dua kegiatan tersebut, waktunya diatur masing-masing maksimum 20 jam per minggu. Sehingga, mahasiwa yang mengambil dua kegiatan itu bekerja selama empat hari kerja.

"Dalam satu hari mereka menjalani 8 jam kerja dan istirahat 2 jam. Aturan ketenagaan kerja di Taiwan memang seperti itu. Jadi bukan kerja berlebihan seperti disebutkan 10 jam bekerja lalu 2 jam istirahat," pungkasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya