Ada Potensi Gempa Besar di Bandung

(Dhk/H-2)
03/1/2019 04:40
Ada Potensi Gempa Besar di Bandung
(ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengingatkan soal potensi bahaya gempa besar di Sesar Lembang, Bandung, Jawa Barat. Permukiman dan fasilitas publik di sekitar Sesar Lembang perlu direlokasi.

"Ancaman gempa itu ada. Jadi, mau tidak mau harus direlokasi," kata Kepala Pusat Penelitian Geo-teknologi LIPI, Yulianto Eko, dalam diskusi di Gedung LIPI, Jakarta, kemarin.

Ia menilai, berbagai bencana yang terjadi di Tanah Air seperti gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Palu-Donggala serta tsunami di Selat Sunda menelan banyak korban jiwa salah satunya karena faktor tata ruang dan wilayah yang tidak mengindahkan peta rawan bencana.

Karena itu, lanjutnya, wilayah Bandung yang ren-tan gempa bumi di Sesar Lembang juga menuntut kesadartahuan dan kewaspadaan masyarakat.

Eko mengungkapkan Sesar Lembang awalnya dianggap bukan sesar aktif. Namun, belakangan diketahui sesar sepanjang 29 km yang merentang dari Gunung Manglayang-Tebing Keraton-Gunung Batu itu menunjukkan aktivitas ke-gempaan merusak.

"Terakhir, gempa Sesar Lembang pada Agustus 2011 di Kampung Muril Rahayu, Kabupaten Bandung Barat. Lebih dari 300 rumah rusak retak-retak padahal kekuatannya hanya 3,3 magnitudo," tuturnya.

Bersama tim di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko meneliti jejak sejarah aktivitas Sesar Lembang. Diketahui, pernah terjadi sedikitnya dua gempa besar pada sesar tersebut yakni sekitar 2.000 tahun lalu dengan kekuatan 6,8 magnitudo. Gempa besar berkekuatan 6,6 magnitudo juga pernah terjadi sekitar 500 tahun lalu.

"Pergerakan Sesar Lembang per tahunnya 2-3 mm. Memang lamban, tapi itu akan mengakumulasi energi yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan hingga menyebabkan gempa besar."

Kerentanan wilayah Bandung akan potensi gempa besar juga ditambah kondisi wilayahnya yang berupa cekungan endapan danau purba. Itu berpeluang memperparah dampak yang di-timbulkan karena struktur tanahnya lunak.

"Bukan tidak boleh ada aktivitas di sana. Sebaiknya hanya yang temporer, bukan permukiman. Perlu disiapkan area buffer zone di sekitar sesar."





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya