Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WILAYAH Indonesia yang rentan berbagai ragam bencana alam menuntut kewaspadaan masyarakat yang lebih tinggi. Ilmu pengetahuan dan teknologi bisa berperan sebagai wahana untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui deteksi dini. Sementara budaya yang terwujud melalui kearifan lokal berperan sebagai penggerak laku masyarakat kala menghadapi situasi bencana.
"Perlu dipadukan antara iptek dengan kearifan lokal dalam penanggulangan bencana. Tidak cukup hanya mengandalkan iptek saja atau pun kearifan lokal saja," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (1/1).
Perpaduan iptek dan budaya amat diperlukan. Sebabnya, imbuh Sutopo, seringkali masyarakat mengandalkan kearifan lokal yang sudah turun menurun diwariskan. Contohnya, menjadikan perilaku hewan atau tanda alam sebagai penanda bahaya. Itu terjadi di sejumlah tempat antara lain pada masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Slamet Jawa Tengah.
Ia juga mencontohkan peringatan dini berperan besar dalam mitigasi. Ia mencontohkan keberhasilan sistem peringatan dini pada kasus erupsi Gunung Kelud, Jawa Timur, 2014 lalu. Mitigasi bencana berhasil menyelamatkan 90 ribu jiwa karena masyarakat bisa dievakuasi secara tertib.
Berdasarkan kajian yang dilakukan BPS, BNPB, dan UNFPA (2013), sambung Sutopo, menunjukkan budaya sadar bencana masyarakat belum terbentuk. Pengetahuan mengenai kebencanaan meningkat namun pengetahuan itu belum menjadi sikap, perilaku dan budaya.
"Budaya sadar bencana masyarakat Indonesia masih perlu upaya yang lebih serius dan berkelanjutan untuk meningkatkannya," ucapnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved