Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA tsunami yang menimpa pesisir Banten pada 22 Desember lalu bukan saja membawa peringatan bagi manusia melainkan juga kelestarian badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang berada di Banten merupakan habitat satu-satunya badak jawa. Di sana pun, berdasarkan pemantauan Balai TNUK, hanya tersisa 67 individu (37 jantan, 30 betina).
Ancaman tsunami di TNUK telah lama dikhawatirkan. Meski pada bencana tsunami, Sabtu lalu, gelombang tsunami tidak membawa kerusakan berarti di TNUK, kondisi tersebut tetap dianggap peringatan bagi keamanan rumah badak jawa.
"Ini merupakan peringatan bagi kita bahwa ini ancaman Krakatau nyata bagi badak, sehingga harus diwaspadai. Khawatir terjadi letusan 1883 yang meluluhlantakkan seluruh kawasan Ujung Kulon. Maka pasti badaknya luluh lantak," terang Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Mamat Rahmat saat dihubungi melalui ponsel, Selasa (26/12). Ia menjelaskan saat bencana tsunami, Sabtu, gelombang masuk sejauh 100 meter ke TNUK.
Namun, diperkirakan tidak ada badak yang terdampak karena mereka biasa berada di tengah hutan dan pinggir pantai daerah selatan. Sementara area terdampak tsunami ada di sebelah utara.
Ancaman tsunami pun mencuatkan lagi rencana pembuatan habitat kedua bagi badak jawa. Sudah cukup lama, pemerintah dan beberapa organisasi pemerhati badak menggodok rencana untuk membuat habitat kedua bagi badak jawa selain di TNUK. Beberapa pilihan lokasi yakni Cagar Alam Rawa Danau di Serang, hutan tutupan Baduy di Lebak, Cagar Alam Leuweung Sancang di Garut, Suaka Margasatwa Cikepuh di Sukabumi, dan Taman Nasional Gunung Halimun yang membentang dari Bogor ke Sukabumi.
Sejak 2014 pun Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, WWF Indonesia, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah menjajaki penggunaan Suaka Margasatwa Cikepuh di Kabupaten Sukabumi untuk menjadi habitat kedua itu. Namun, hingga kini belum ada kelanjutan program itu.
"Kami terus membahas dan meneliti kawasan Cikepuh. Pada dasarnya, suaka margasatwa ini cocok untuk dijadikan habibat badak jawa," terang Kepala Seksi Konservasi BKSDA II Bogor, Ari Wibawanto, kemarin.
Suaka Margasatwa Cikepuh berada di Kecamatan Ciemas dan Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Luas kawasan itu mencapai 8.127 hektare, dengan topografi kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 0-250 meter di atas permukaan laut.
Di sisi lain, Site Manager Kantor Ujung Kulon WWF-Indonesia Kurnia Oktavia Khairani mengungkapkan bahwa habitat kedua juga tidak bisa menjamin kelestarian badak jawa.
"Sebenarnya Indonesia ini kan ring of fire, di mana-mana tidak ada tempat yang aman (dari bencana). Tapi, berbagi kantong habitat jauh lebih baik dibanding hanya satu habitat," tambah Kurnia.
Oleh karena itu, Kurnia justru mengharapkan agar habitat badak jawa diperbanyak lagi.
"Tidak hanya second habitat, kita menganggap bahwa setelah ada second habitat, kita mengharapkan ada habitat ketiga, habitat keempat. Karena lebih baik habitatnya tersebar banyak," tambahnya.
Ia menjelaskan hasil studi kelayakan untuk habitat kedua badak jawa telah diserahkan kepada pemerintah. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu dikaji, contohnya keberadaan lokasi yang dekat dengan kawasan latihan militer. "Keputusan ada di tangan pemerintah," ujarnya.
Hal yang sama dikatakan Ketua Yayasan Badak Indonesia (YABI) Widodo Ramono.
"Memang betul kita sekarang terdorong untuk lebih cepat melaksanakan itu. Sebetulnya sudah cukup lama kita memikirkan untuk second habitat itu," ujar Widodo.
Namun, ia sepakat jika masih banyak hal yang harus diselesaikan untuk membuat Cikepuh layak ditinggali badak jawa.
"Itu banyak sebabnya. Tadinya kan pemda tidak membolehkan badak itu keluar dari Ujung Kulon. Kedua, juga pada waktu itu sudah dicari-cari, tapi gak ada yang memadai. Sementara itu, akhirnya mengerucut Cikepuh itu. Cikepuh itu juga repot, karena banyak kepentingan di situ, ada perambahan, ada ternak di dalam, kemudian juga daerah latihan militer," jelasnya.
Dengan kenyataan itu, Widodo berharap pemerintah segera membuat kejelasan langkah akan pendirian habitat kedua bagi badak jawa. "Kita juga berharap ada keputusan. Akhirnya pemerintah juga yang mempunyai kewenangan untuk menentukan," pungkas Widodo.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved