Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JALAN berbatu dari permukiman menuju Sekolah Dasar (SD) Inpres Liki, di Kabupaten Sarmi, Papua, dilintasi telapak-telapak kaki kecil. Tepat pukul 07.00 WIT saat lonceng berbunyi, anak-anak bersiap masuk ke kelas untuk menyimak pelajaran hingga pukul 12.45.
Regina, salah satu siswa, duduk manis berhadapan dengan papan tulis hitam di dinding. Perawakannya yang bongsor tidak menghalangi teman lain di belakangnya.
Ruang kelas yang cukup besar itu ditempati bersama oleh Regina yang duduk di kelas 5, beserta murid kelas 3. Tidak ada sekat, hanya terpisah berdasarkan letak bangku bagian kanan dan kiri. Bukan karena jumlah siswa yang sedikit, melainkan hanya ada empat ruangan di SD itu.
"Di ruang paling kiri itu kantor guru, lalu di sebelahnya ruang gabungan kelas 1 dan kelas 2, di sampingnya lagi kelas 3 dan kelas 5, lalu kelas 4 dan kelas 6 di ujung kanan," tunjuk Kepala Sekolah SD Liki, Oktovina Armophir, kepada Media Indonesia, saat penjelajahan pulau-pulau kecil dan terdepan di Indonesia bertajuk Ekspedisi Nusa Manggala, beberapa waktu lalu.
Ekspedisi itu diinisiasi Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). SD Inpres Liki merupakan satu-satunya sekolah di Pulau Liki, sebuah pulau di perbatasan timur Indonesia yang dikelilingi Samudra Pasifik.
Untuk dapat menjangkau Pulau Liki, Media Indonesia harus menaiki speed boat selama 1 jam dari Kabupaten Sarmi atau kurang dari 8 jam perjalanan darat dari Kota Jayapura.
Operasional SD Inpres Liki berlangsung sejak 1983 lalu, memiliki 36 murid dan 2 guru aktif, termasuk Oktovina Armophir, kepala sekolah yang merangkap guru. "Tadinya ada 5 guru, tetapi 3 guru masih di Sarmi. Jadi, mama cuma berdua dengan satu guru, Mama Mariana. Ini sudah lima bulan," imbuh perempuan paruh baya yang akrab disapa Mama Oktovina itu.
Tak hanya ruang kelas dan guru, mereka juga kekurangan alat peraga serta belum stabilnya jaringan internet. Yang paling didambakan para siswa saat ini ialah perpustakaan.
Beberapa bulan lalu tim Ekspedisi Nusantara Jaya membawa bantuan buku. Lantaran tidak ada tempat, buku ditempatkan di balai karya, ruang serbaguna untuk kegiatan penduduk.
"Anak-anak semangat membaca buku, terutama yang bergambar. Tetapi, mereka tidak bisa masuk ke balai kalau ada tamu," kata Mama Oktovina.
Sungguh, di tepi Samudra Pasifik itu, buku dan perpustakaan menjadi barang mewah bagi anak-anak SD Inpres Liki.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved