Krakatau Siaga, Sebagian Warga Enggan Mengungsi

M Taufan SP Bustan
27/12/2018 15:52
Krakatau Siaga, Sebagian Warga Enggan Mengungsi
(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

MESKI aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus meningkat dan status dinaikkan dari waspada level II menjadi siaga level III, sebagian warga di Kabupaten Pandeglang dan Serang, Banten, belum mau mengungsi. Terlebih bagi mereka yang bermukim di dataran tinggi.

Padahal,  PVMBG Badan Gelologi Kementerian ESDM telah menaikkkan status dengan zona berbahaya diperluas dari dua kilometer menjadi lima kilometer.

Pantauan Media Indonesia, hampir semua warga yang pemukimannya tidak terdampak tsunami, Sabtu (22/12) lalu, terlihat masih bertahan.

Sementara jarak pemukiman mereka masuk ke dalam zona yang diharuskan untuk mengungsi.

Keluarnya imbauan agar masyarakat dilarang melakukan aktivitas di dalam radius lima kilometer dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau yang telah diberlakukan terhitung mulai hari ini, tampaknya tidak begitu diperdulikan.

Faktanya dari sepanjang pesisir pantai Pandeglang hingga Serang warga masih banyak yang beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya.

Mereka seakan-akan tidak takut jika terjadi bencana susulan. Terkhusus bagi mereka yang menjalankan usaha rumah makan di pinggiran jalan, terlihat masih saja beroperasi.

Salah satu warga Desa Carita, Kecamatan Carita, Kabupaten Padenglang Atik Eka Wati ,36, menyebutkan, sudah mengetahui imbauan dari pemerintah.

Namun, ia memilih untuk bertahan karena masih merasa aman. Kalau pun terjadi bencana susulan seperti tsunami, pemilik salah satu warung di Carita itu mengaku, tinggal menyelamatkan diri saja.

“Ini kan kita tidak tahu juga mau ada bencana susulan atau tidak. Tapi bagi saya, kami di daerah ini masih merasa aman,” ungkap Atik saat ditemui Media Indonesia di warung makan miliknya di Desa Carita.

Ia bertahan, menurutnya, bukan berarti acuh dengan imbauan pemerintah.

“Untuk waspada tetap, tapi kalau untuk mengungsi belum terpikirkan karena di sini juga kami jualan makanan. Hitung-hitung kami membantu orang yang banyak datang dan membutuhkan warung makan juga,” imbuh Atik.

Senada dengan Atik, warga Desa Carita lainnya Dahlan Askar ,30, menyebutkan, belum mau meninggalkan rumahnya meski imbauan soal status Gunung Anak Krakatau dikeluarkan.

Menurutnya, daerahnya masih cukup aman. Kalau pun terjadi letusan, abunya tidak mengarah ke wilayah mereka.

“Sebenarnya kami di sini masih aman. Meski memang dekat dengan Krakatau,” tandas Dahlan.

Namun, berbeda dengan pengakuan warga di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang. Sebagian warga di sana memilih untuk mengungsi menyusul keluar imbauan dari pemerintah.

Memang masih ada sejumlah warga yang bertahan di permukiman yang dibangun di sepanjang pesisir pantai dan tidak terdampak tsunami.

“Tsunami itu tanda-tanda sebenarnya, makanya saya dan sejumlah keluarga langsung mengungsi. Tambah ada imbauan soal aktivitas Krakatau makin meguatkan kami untuk meninggalkan Anyar sementara waktu,” tuturnya warga Desa Anyar Ramadhan secara terpisah.

Saat ditemui, Ramadhan memang masih terlihat sibuk mengumpulkan barang-barang yang bisa dibawa. Namun menurutnya, barang yang sangat penting adalah sejumlah dokumen.

“Kebetulan anak dan istri sudah saya antar ke rumah saudara di Jakarta, sekarang tinggal mau ambil dokumen rumah dan dokumen lainnya. Ada ijazah dan surat rumah juga,” tandasnya.

Berdasarkan data PVMBG, Gunung Anak Krakatau aktif kembali dan memasuki fase erupsi mulai Juli 2018.

Erupsi selanjutnya  berupa letusan-letusan Strombolian yaitu letusan yang disertai lontaran lava pijar dan aliran lava pijar yang dominan mengarah ke tenggara. Erupsi yang berlangsung fluktuatif.

Pada Jumat (22/12) lalu, terjadi erupsi namun tercatat skala kecil, jika dibandingkan dengan erupsi periode September-Oktober 2018. Hasil analisis citra satelit diketahui lereng barat-barat daya longsor (flank collapse) dan longsoran masuk ke laut.

Inilah kemungkinan yang memicu terjadinya tsunami. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Adiyanto
Berita Lainnya