Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCANA pengintegrasian seluruh lembaga riset di Indonesia sesuai dengan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional (RIRN diharapkan dapat memperbaiki tingkat critical mass di bidang riset dan menjadikan riset sebagai budaya.
Critical mass peneliti ialah jumlah SDM, fasilitas, dan anggaran yang diperlukan untuk mendukung aktivitas profesional institusi penelitian. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengungkapkan critical mass penelitian Indonesia saat ini masih rendah. Mulai jumlah SDM, kualitas SDM, peralatan, hingga anggaran.
"Critical mass ialah sebuah syarat mewujudkan riset sebagai budaya di negeri ini. SDM menjadi yang terpenting. Kita butuh generasi periset, bukan individu periset," ujarnya di Jakarta, kemarin.
Ia menjelaskan, untuk memperkuat sebuah riset, diperlukan satu grup berisi beberapa peneliti. "Perlu satu grup. Misalnya, satu grup berisi 15 peneliti. Tidak berpencar seperti sekarang. Di kampus A ada 4 orang, di kampus B punya 3 orang," ungkapnya.
Sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo dalam Perpres RIRN, seluruh lembaga riset di kementerian/lembaga yang selama ini berjalan sendiri-sendiri harus dikoordinasikan. Selama ini memang sering terjadi duplikasi dan tumpang-tindih riset.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Mohamad Nasir mencontohkan total anggaran riset pada 2017 Rp24,9 triliun. Namun, duplikasi dan tumpang-tindih riset membuat anggaran sebesar itu tidak menghasilkan manfaat maksimal. "Dengan RIRN, bisa dikontrol semua risetnya," kata Nasir, beberapa waktu lalu.
Pihaknya sedang menyiapkan turunan perpres itu ke dalam peraturan menteri. Peraturan pertama yang akan disiapkan, menurut dia, akan fokus pada teknis koordinasi lembaga riset kementerian/lembaga dengan Kemenristek-Dikti sebagai koordinator. "Perpres 38 Tahun 2018 ini fokus penelitian sampai 2045," katanya.
Keunggulan komparatif
Terkait dengan riset yang belum jadi budaya di Indonesia, Handoko menyatakan itu disebabkan pendidikan di Indonesia yang baru bertumbuh. Situasinya berbeda dengan negara maju yang sudah melesat jauh.
"Pendidikan kan basis budaya riset. Menjadikan riset sebagai budaya di negeri ini jadi tugas kami juga. Makanya, kami membuka semua fasilitas infrastruktur untuk semua orang. Kita buat 22 laboratorium dan pusat penelitian kita menjadi public area," bebernya.
Pada waktu terpisah, peneliti asal Indonesia yang saat ini berkarier di Jerman, Suherman, mengatakan pengembangan riset di Indonesia sebaiknya disusun berdasarkan skala prioritas keunggulan komparatif.
"Apa yang menjadi kekuatan kita, fokuskan riset ke bidang tersebut untuk kemajuan sains dan penguatan ekonomi bangsa," ujar lulusan Brandenburgische Technische Universitat, Jerman itu, melalui pesan elektroniknya, Selasa (25/12).
Ia mencontohkan Indonesia sebagai negara maritim dan agraris perlu memperkuat riset di kedua bidang itu. "Kita negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia, maka riset bioteknologi harus kuat." (Bay/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved