Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MOBILITAS atau perpindahan penduduk di masa depan akan semakin kompleks dan dinamis, antara lain karena Indonesia sangat rentan terhadap bencana alam. Selain didominasi faktor ekonomi, perubahan lingkungan ikut berkontribusi terhadap kompleksitas tersebut.
Hal itu dikemukakan oleh Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mita Noveria dalam diskusi bertajuk Mobilitas Penduduk Ditengah Globalisasi dan Perubahan Lingkungan di Jakarta, Rabu (26/12).
Baca juga: Beri Penjelasan Soal Migrasi, Menlu Kutip Lagu Queen
“Kondisi yang rentan bencana alam berdampak terhadap mobilitas penduduk karena 'memaksa' mereka untuk meninggalkan tempat tinggal, baik sementara maupun permanen. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, pengelolaan migrasi menjadi penting untuk diperhatikan,” sebutnya.
LIPI melihat isu-isu mobilitas penduduk internal dalam beberapa tahun terakhir cenderung kurang mendapat perhatian baik oleh pemerintah dan akademis di Indonesia. Padahal, jelas Mita, perubahan iklim yang cenderung ekstrem telah memengaruhi aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari (livelihood), sehingga mendorong orang untuk melakukan mobilitas, baik permanen maupun nonpermanen.
“Hasil penelitian memperlihatkan adanya perubahan pola mobilitas karena perubahan lingkungan dari yang datang secara individu menjadi berkelompok pada saat meninggalkan tempat tinggal dan membuka daerah baru untuk tinggal.” tandasnya.
Fenomena mobilitas penduduk semakin kompleks dan dinamis, antara lain dipicu oleh perubahan demografi dan proses pembangunan di tengah globalisasi dan perubahan lingkungan.
Globalisasi yang ditandai oleh kemajuan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta transportasi memudahkan terjadinya perpindahan orang, barang, modal, jasa, dan ideologi.
Migrasi risen
Perubahan demografi terlihat dari peningkatan proporsi penduduk usia produktif dari 66,1% pada 2010 menjadi 67,6% pada 2018. Peningkatan ini menuntut tersedianya kesempatan kerja yang lebih luas, tidak hanya di daerah asal, tetapi juga di daerah lain.
Untuk mendapatkan pekerjaan, imbuh Mita, penduduk dengan usia produktif cenderung melakukan strategi dengan berpindah ke daerah lain (migrasi risen). “Berdasarkan data sensus penduduk 2010, menunjukan migran risen berusia 15-34 tahun berkontribusi sebesar 63,9% dari seluruh migran risen di Indonesia,” jelasnya.
LIPI mencatat, kebijakan untuk mempercepat pertumbuhan dunia usaha dan sektor industri ternyata mampu berkontribusi terhadap peningkatan arus mobilitas penduduk usia produktif itu.
“Paket ekonomi tahap ketiga berupa penyederhanaan ijin usaha diharapkan akan menumbuhkan industri-industri baru yang membuka kesempatan kerja, sehingga menjadi faktor penarik bagi penduduk usia kerja untuk melakukan mobilitas,” jelasnya.
Selain itu, kemajuan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta transportasi ikut menyebabkan terjadinya perubahan pola mobilitas penduduk dari permanen ke temporer serta perubahan volume dan intensitas mobilitas.
“Terlihat dari data migrasi risen yang mengalami penurunan dari 5,6 juta di sensus tahun 2000 menjadi 5,4 juta pada tahun 2010, dan turun menjadi 4,8 juta di tahun 2015,” pungkasnya. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved