Penghijauan yang Menghidupkan Telaga dan Wisata Berkelanjutan

(FU/M-1)
22/12/2018 06:55
Penghijauan yang Menghidupkan Telaga dan Wisata Berkelanjutan
( FOTO: Furqon Ulya Himawan)

TELAGA Kemuning yang terletak di Dusun Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), benar-benar menjadi oase bagi daerah tersebut. Bukan saja airnya yang tidak pernah kering, melainkan juga suasana teduh dari ribuan pohon, khususnya jati di sekitar telaga.

Oase itu nyatanya bukan hasil kerja sebentar. Keberadaan telaga itu pun hasil revitalisasi pada 1999. Pada awalnya, Telaga Kemuning dibangun sesepuh wilayah setempat, Mbah Resowijoyo, pada 1775. Namun, telaga itu kemudian lenyap karena tidak dilestarikan.

Pada 1999, warga dan pemerintah daerah membangun kembali telaga di letak yang tidak jauh dari telaga asal. Belajar dari yang terjadi pada telaga generasi pertama, warga memiliki kesadaran soal pentingnya merawat telaga yang kini memiliki kedalaman 3 meter tersebut. Terlebih mereka merasakan benar manfaat telaga di musim kemarau.

Air telaga mencukupi kebutuhan untuk mencuci, memasak, dan memelihara ternak. Kendala yang ada hanyalah lokasinya yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman dusun.

Pada 2004, warga sempat membangun sumur bor secara swadaya. Namun, sumur tersebut sempat pula mengalami kekeringan sehingga Telaga Kemuning tetap berfungsi vital.

Warga merawat telaga tersebut dengan menjaga kehijauannya, meski sebenarnya kondisi sekitar sudah cukup hijau dengan keberadaan wilayah Perhutani dan Hutan Wanagama Bunder. Namun, warga, dengan adanya program Pilar Astra Hijau, menanam sekitar 10 ribu jati di sekitar telaga mulai 2013. Kini, dusun tersebut telah menyandang status Kampung Berseri Astra.

Kondisi telaga yang asri juga dimanfaatkan secara ekonomi. Namun, untuk menjaga kelesta-rian telaga, warga terlebih dulu membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Di bawah wadah itu mereka berembuk soal konsep wisata ramah lingkungan.

Dari situlah kemudian lahir usaha pemancingan dan juga konsep penanaman pohon oleh pengunjung. "Yang sudah berjalan pemancingan, tapi telaga hanya dibuka untuk wisata selama empat bulan. Dari situ hanya satu bulan untuk full mancing," tutur Kepala Dusun Kemuning, Suhardi, Kamis (13/12).

Selanjutnya, Suhardi mengungkapkan jika mereka akan menjalankan konsep wisata sejarah dan edukasi lingkungan. Konsep ini berbentuk penyediaan bibit tanaman yang sudah termasuk ke dalam harga tiket telaga.

Nantinya pengunjung juga akan diajak langsung menanam bibit tanaman yang telah mereka beli. Dengan begitu, pengunjung dapat belajar pentingnya kelestarian alam dan sekaligus lingkungan sekitar telaga tetap hijau.

Untuk mewujudkan konsep tersebut, warga kini melakukan pembibitan pohon kemuning di halaman rumah masing-masing. Pemilihan jenis pohon kemuning sekaligus untuk menyesuaikan nama dan sejarah telaga tersebut.

Selain itu, warga juga menjaga kelestarian lingkungan permukiman dengan pemilahan sampah.

Sampah anorganik, khususnya plastik, dikumpulkan ke bank sampah. Setiap bulan, warga secara bersama bisa mengumpulkan dana Rp150 ribu-Rp180 ribu setiap bulan. Pendapat itu digunakan untuk pembiayaan posyandu untuk anak balita dan lansia.

Banyak yang mati

Langkah warga menjadikan Telaga Kemuning sebagai destinasi wisata disambut baik Agus Maryono, ahli ekohidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemanfaatan ekonomi tersebut dinilai menunjang agar warga semakin merasakan peran keberadaan telaga sehingga nantinya terus merawatnya.

Tanpa peran serta warga, umur telaga tidak akan panjang. Di wilayah Gunungkidul, menurut Agus, ada sekitar 60% telaga yang sudah mati dari total jumlah 258 telaga.

"Paling sering, matinya telaga karena masyarakat sudah tidak lagi mau memikirkan keberlangsungan air telaga dan memilih mengambil air di tempat lain. Selain itu, masyarakat juga abai dan tidak melakukan penanaman pohon di sekitar telaga sehingga airnya menjadi kering," tuturnya.

Menurutnya, penghijauan telaga dapat menggunakan pohon beragam jenis, tidak harus jati. Beberapa jenis pohon lain yang ia sarankan ialah gayam, belibis, hingga pohon beringin. Jika besar, tanaman itu bisa menjadi penyimpan air dan menghidupkan telaga sebagai tampungan air untuk berbagai macam kebutuhan atau untuk wisata alam.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya