Jelang Natal dan Tahun Baru, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Persatuan

Indriyani Astuti
21/12/2018 18:45
Jelang Natal dan Tahun Baru, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Persatuan
(MI/ROMMY PUJIANTO)

MENJELANG perayaan Natal dan Tahun Baru 2019, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya umat muslim untuk terus berusaha  meningkatkan persatuan dan kesatuan serta menjauhi falsafah dan pandangan hidup yang bertentangan dengan falsafah Pancasila dan UUD I945.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat, Abdullah Jaidi, agar bangsa Indonesia tetap dapat berdiri kuat dan kokoh. Sehingga tercipta negeri yang subur dan makmur, adil dan aman, serta rakyatnya hidup dalam kesejahteraan dan keadilan dapat terwujud.

Selain itu, demi terjaga dan terpeliharanya kerukunan dalam kehidupan antarumat beragama, MUI mengimbau para pengusaha dan para pihak terkait lainnya agar dalam suasana Natal dan pergantian tahun baru ini tidak memaksa atau mendorong, dan mengajak karyawan yang beragama Islam memakai atribut-atribut dan atau simbol-simbol yang tidak sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan mereka.

Ia menjelaskan bahwa MUI beberapa tahun lalu, menerima laporan soal itu dan diminta untuk memberikan pandangan dan sikap serta fatwanya terhadap atribut natal yang dipaksakan kepada karyawan.

"Atas dasar itu MUI tidak sekadar mengimbau pada menjelaskan pada pihak terkait agar tidak melakukan paksaan tersebut. Itu ditaati oleh para pemilik pertokoan dan pusat berbelanjaan," ujarnya dalam konferensi pers Tausiyah Akhir Tahun 2018 di Kantor MUI, Jakarta, pada Jumat (21/12).

Mengingat 2019 Indonesia memasuki tahun politik, karena  pemilihan presiden dan pemilihan legislatif diadakan serentak bersamaan, Abdullah menuturkan bahwa MUI mengajak semua kontestan dan partai politik lebih mengedepankan program-program dan rencana kebijakan yang rasional.

Selain itu, mereka juga diminta mengedepankan moralitas dan sikap yang baik serta menghindari dan menjauhi praktik-praktik kotor yang dilarang agama.

"Seperti cela-mencela, risywah (money politic), dan berbagai bentuk kecurangan dan perbuatan tidak terpuji lainnya," imbuhnya.

Khusus dalam menghadapi pergantian tahun dan menyambut datangnya Tahun Baru Masehi 2019, Abdullah mengatakan MUI mengajak dan mengimbau masyarakat luas untuk menyambut dan menyongsong tahun baru tersebut dengan penuh syukur dan kesederhanaan. Dengan cara, tidak hura-hura dan menghindari pola hidup yang bersifat materialistik, konsumeristik, dan hedonistik. (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya