Bangun Ketahanan Energi dari Limbah Sawit

Patna Budi Utami
19/12/2018 06:20
Bangun Ketahanan Energi dari Limbah Sawit
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/)

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan terobosan dalam program ketahanan energi sekaligus ketahanan pangan dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit. Terobosan dilakukan melalui pembangunan enam fasilitas pemanfaatan limbah biomasa sebagai energi di enam daerah senilai Rp7,2 miliar pada tahun ini.

Setiap unit fasilitas pengolah limbah biomassa berupa tandan kosong kelapa sawit tersebut menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bagi 20 rumah di sekitar lokasi reaktor. Selain itu, tandan kosong kelapa sawit tersebut sebelum diproses dalam pengomposan untuk menghasilkan biogas dimanfaatkan sebagai media jamur.

"Fasilitas itu diharapkan dapat menjadi sarana edukasi sehingga dapat menjadi contoh bagi daerah lain," kata Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan Limbah Non-B3 KLHK Sinta Saptarina Soemiarno saat penyerahan salah satu dari enam fasilitas tersebut di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung, Senin (17/12).

Lima fasilitas lainnya yang dibangun dengan biaya sekitar Rp1,2 miliar per unit tersebut berada di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan; Pasangkayu, Sulawesi Tengah; Pellawan, Riau; Katingan, Kalimantan Tengah; dan Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Setiap reaktor pada fasilitas berkapasitas 20 ton/batch.

Ia mengatakan pembangunan fasilitas pemanfaatan biomassa menjadi energi tersebut dilakukan di daerah-daerah yang memiliki banyak limbah berupa tandan kosong kelapa sawit dan masyarakatnya belum sejahtera. Dengan demikian, energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk bahan bakar rumah tangga sehari-hari, terutama memasak.

Bahkan, menurut Sinta, setiap fasilitas dapat memproduksi jamur senilai Rp18 juta per bulan yang dapat dikelola masyarakat sebagai tambahan pendapatan. Potensi jamur senilai itu, ujarnya, merupakan angka yang besar dari pemanfaatan cangkang sawit.

"Dengan fasilitas ini, selain bermanfaat untuk mendapatkan energi biogas bagi keperluan rumah tangga, juga sekaligus mengurangi limbah padat industri minyak sawit," katanya.

Pembangunan setiap fasilitas dilakukan bekerja sama dengan universitas negeri setempat. Di Belitung Timur, fasilitas itu dibangun bekerja sama dengan Universitas Bangka Belitung (UBB). Sayangnya, pengomposan untuk menghasilkan biogas di wilayah ini kurang optimal karena tidak dicampur dengan kotoran sapi yang memilika kandungan metana tinggi lantaran tidak adanya peternakan sapi.

Manfaatkan CSR

Staf Ahli Menteri LHK Hudoyo berharap fasilitas serupa dapat dibangun di daerah lain oleh perusahaan swasta, terutama perusahaan sawit melalui corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab perusahaan. Selain itu, fasilitas dapat dibangun dengan menggunakan dana desa. "Ini juga dibangun untuk peningkatan ekonomi masyarakat juga," katanya.

Dengan hadirnya fasilitas pemanfaatan biomassa menjadi energi itu, ia juga meminta perusahaan-perusahaan sawit dan swasta lainnya agar dapat menyediakan tandan kosong kelapa sawit secara terus-menerus dan membangun reaktor-reaktor berkapasitas kecil. (H-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya