Praktisi Pendidikan Usulkan Tiga Jalan Hadapi Era 4.0

Syarief Oebaidillah
14/12/2018 22:05
Praktisi Pendidikan Usulkan Tiga Jalan Hadapi Era 4.0
(ist)

INDONESIA saat ini tengah menghadapi era revolusi industri 4.0 dengan persaingan semakin ketat. Sederet upaya perlu dipersiapkan, misalnya saja dengan mengubah metode pembelajaran dalam dunia pendidikan yang ada saat ini. Di antaranya, mempersiapkan model pembelajaran science, technology, engineering, art, math (STEAM) guna mengatasi ketertinggalan.

Praktisi pendidikan dari Eduspec, Indra Charismiadji, mengutarakan, setidaknya ada tiga hal yang perlu diubah Indonesia dari sisi edukasi. Pertama dan yang paling fundamental ialah mengubah sifat dan pola pikir anak-anak muda generasi milenial Indonesia saat ini.

Adapun yang kedua, lanjut Indra, ialah pentingnya peran sekolah dalam mengasah dan mengembangkan bakat generasi penerus bangsa. Ketiga, pengembangan kemampuan institusi pendidikan untuk mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini.

"Dengan kata lain sekolah juga mesti mampu mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan generasi milenial tentunya perlu menyediakan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan siswa, seperti menyediakan sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar yang mumpuni," kata Indra pada peluncuran penyelengaraan Indonesia STEAM Week 2019 di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat (14/12).

Kegiatan ini dilanjutkan denggan workshop dan pelatihan STEAM untuk guru dan para pelaku pendidikan lainnya.

Menurut Indra, tujuan peluncuran penyelenggaraan Indonesia STEAM Week 2019, menyosialisasikan pembelajaran informatika berbasis STEAM kepada para pendidik di Indonesia, memberikan pelatihan tentang konsep dari program pembelajaran Informatika berbasis STEAM, serta membantu pendidik untuk mempersiapkan dan memahami konsep dari program pembelajaran Informatika berbasis STEAM agar dapat diterapkan di dalam kelas.

Indra mengingatkan dunia sudah mengenal STEAM sejak 2001. Lalu rumusan keterampilan abad 21 diperkenalkan pada 2002. Sementara Indonesia, kata dia, sudah tertinggal 10 tahun karena negara lain sudah akrab dengan STEAM.

Menurutnya, kurikulum STEAM ini sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan jika memang pemerintah Indonesia mau mengatasi ketertinggalan tersebut.

Dia berpendapat, kurikulum 2013 tidak perlu dihapus. Melainkan diintegrasikan dengan pembelajaran STEAM. Misalnya saja yang paling mudah adalah masuk ke mata pelajaran informatika. Nantinya yang diajarkan ke para siswa itu bukan satu pelajaran melainkan integrasi semua bidang sehingga siswa hasil akhirnya bisa membuat satu produk.

"Pembelajaran STEAM itu siswa tidak terlalu banyak teori. Mereka harus bisa presentasi dan memiliki satu produk jadi," tukasnya.

Dalam kesempatan sana, Kabid Pembelajaran Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Suprananto, mengatakan, pihaknya sedang merumuskan ketetapan mengenai STEAM yang akan diterapkan di sekolah.

Menurutnya, ada dua pilihan yang sedang dibahas yakni apakah pemerintah ingin secara eksplisit kurikulum yang berlaku di sekolah berbasis STEAM. Ataukah pembelajaran STEAM hanya dilakukan sesuai kemampuan di masing-masing sekolah.

"Sedang dirumuskan standing point apakah mau eksplisit kurikulum berbasis STEAM atau disesuaikan dengan kemampuan sekolah," ujarnya.

Kemendikbud, kata dia, tidak akan membentuk mata pelajaran STEAM tersendiri namun lebih untuk mengemas pembelajaran melalui pendekatan STEAM. Suprananto pun menekankan bahwa tidak akan ada guru khusus mapel STEAM sebab ini lebih kepada pendekatan pembelajaran, metode atau teknik pembelajaran.

Dia menuturkan, sebetulnya pembelajaran STEAM sudah jalan di sekolah misalnya di DKI Jakarta. Mereka tidak eksplisit menyebut STEAM di pembelajaran. Misalnya pembelajaran yang mengaitkan matematika, biologi dan ekonomi. Namun, kata dia, memang belum banyak sekolah yang menerapkan.

Dia menekankan, jika kurikulum 2013 dijalankan dengan baik maka sejatinya sudah sesuai dengan konsep pembelajaran STEAM.

Kasie Kurikulum Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta, Arief Maulana, mengutarakan, Kemenag memiliki motto Madrasah Hebat Bermartabat. Kata dia, motto ini membuat jajaran kementerian berusaha menjadikan madrasah bisa mengimbangi era 4.0 dengan cara pengembangan teknologi di sekolah. Di antaranya, dengan mengembangkan ekstarkurikuler robotik dan lainnya yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, Kemenag juga menunggu kebijakan dari Kemendikbud mengenai STEAM. Pihaknya selalu memantau informasi mengenai STEAM ini karena juga ingin meningkatkan mutu siswa siswi di madrasah.

"Guru madrasah juga sudah menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Kami juga harus siap ikuti trend hadapi era 4.0," pungkasnya. (OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya