RI akan Produksi Massal Alat Deteksi Nuklir

Dhika Kusuma Winata
15/12/2018 04:00
RI akan Produksi Massal Alat Deteksi Nuklir
( ANTARA FOTO/Muhammad Iqba)

SEBUAH purwarupa radiation portal monitor (RPM) dapat dibuat dengan dana sebesar Rp3 miliar, lebih murah jika dibandingkan dengan produk sama buatan asing yang harganya mencapai Rp5 miliar.

Pembuatnya ialah konsorsium riset dan industri yang terdiri dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan PT Len Industri.

"Selama ini RPM yang ada dipasang di wilayah Indonesia merupakan produk negara lain," ungkap Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir Batan Hendig Winarno saat serah terima RPM dari Konsorsium Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) kepada pemerintah di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (14/12)

Jika produk rusak, imbuhnya, perbaikannya membutuhkan biaya besar. Untuk itulah, inovasi RPM buah karya anak bangsa ini diperlukan.

RPM merupakan seperangkat alat yang dilengkapi sensor yang mampu mendeteksi adanya zat radioaktif, termasuk nuklir. RPM sangat diperlukan untuk dipasang di seluruh pelabuhan dan bandara internasional serta pos lintas batas negara guna mencegah masuknya bahan radioaktif secara ilegal.

Selain itu, RPM diperlukan untuk menghindari penyelewengan penggunaan zat radioaktif dan bahan nuklir oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN) Batan, Dhandang Purwadi, mengatakan purwarupa RPM itu nantinya akan dilakukan uji terap selama satu tahun di Kawasan Puspiptek, Serpong. "Alat akan dilakukan penyempurnaan sebelum diproduksi secara massal," ungkapnya.

Setelah pengujian lapangan, lanjut Dhandang, dilakukan juga proses penyempurnaan seperlunya, kemudian dilanjutkan dengan program sertifikasi menuju produksi massal oleh BUMN Len Industri.

Butuh banyak

Beberapa waktu lalu, Presiden RI Joko Widodo meminta agar RPM dipasang di setiap pintu masuk di seluruh wilayah Indonesia, mulai terminal, pelabuhan, dan bandara. Karena itulah, kebutuhan RPM di Indonesia sangat besar. "Mengingat jumlah pintu akses masuk sangat banyak," tambah Sekretaris Utama Bapeten Hendriyanto.

Saat ini jumlah RPM yang terpasang di wilayah Indonesia ada enam unit yang tersebar di pelabuhan di Tanjung Priok Jakarta, Batam, Bitung, Makassar, Belawan, dan Semarang. Jumlah itu menurutnya masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pintu masuk-keluar wilayah Indonesia yang bisa mencapai ratusan titik.

"Yang dikhawatirkan ialah perdagangan ilegal zat radioaktif. Jika ada zat radioaktif masuk tanpa izin Bapeten itu berbahaya. Aspek keamanan negara paling utama yang dipertimbangkan dalam pembuatan RPM ini," cetusnya.

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati, mengapresiasi konsorsium PPTI yang telah menyelesaikan pembuatan RPM. Itu bisa mendorong inovasi dalam negeri. Terlebih, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pembuatan alat tersebut lebih dari 90%.

"Ini potensial bisa menggantikan teknologi yang selama ini kita pakai dari luar negeri. Efisiensinya akan sangat luar biasa nantinya karena pembangunan RPM ini hanya menghabiskan Rp3 miliar jika dibandingkan dengan produk luar negeri yang seharga Rp5 miliar," sebutnya. (H-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya