Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo menghadiri peluncuran buku biografinya yang berjudul 'Jokowi Menuju Cahaya' karya Alberthiene Endah di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Kamis, (13/12).
Menurut Alberthiene, buku tersebut berkisah tentang seorang pria yang menggunakan seluruh pengalaman sulit di masa kecil menjadi prinsip kerja yang berguna bagi sekitar. Ketika Jokowi menjadi pemimpin negara, kata Alberthiene, hikmah dari pengalaman masa kecilnya itu menjadi cara Jokowi dalam berjuang.
Menurutnya, bagi seorang Jokowi, membangun Indonesia tidak bisa dilepaskan dari aspek keadilan. Hal itu telah ditunjukkan Presiden dengan kebijakannya membangun infrastruktur hingga ke pelosok timur Indonesia.
"Pesan terpenting di dalam buku tersebut adalah mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa pembangunan tidak lah selalu manis. Pembangunan selalu berproses dalam kepahitan. Jokowi justru mengajak pembaca untuk melihat dan memiliki satu tujuan agar termotivasi untuk bergerak dan memiliki harapan," tandasnya.
Dalam acara itu, Jokowi mengenakan kemeja putih dan celana jeans. Ia hadir bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Jaksa Agung M Prasetyo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita.
Alberthiene menceritakan 'Jokowi Menuju Cahaya' merupakan buku kedua yang ia tulis tentang Jokowi. Pada 2012, ia menuliskan kisah Jokowi yang akan beranjak dari Wali Kota Solo menjadi gubernur DKI Jakarta. Buku yang berkisah tentang perjalanan Jokowi itu berjudul 'Joko Widodo - Menyentuh Jakarta'.
Namun, dalam penulisan buku kedua ini, Alberthiene mengaku sedikit kesulitan lantaran kesibukan Jokowi sebagai presiden.
"Tetapi dalam penulisan ada satu jalan, saya menemukan jalan untuk merekam perjalanan Jokowi. Yakni saya membaca suara hati beliau dari apa yang saya lihat, dari apa yang beliau kerjakan," ujarnya.
Pada kesempatan itu, Jokowi menjelaskan bahwa kebijakan yang ia jalankan tidak semuanya dirasakan secara instan oleh masyarakat. Ia tidak ingin masyarakat terbiasa menerima hasil instan.
Ia mengaku bisa saja membuat kebijakan yang membuat seluruh masyarakat senang. Sebut saja dengan membagi bantuan sosial sebanyak mungkin.
"Mudah kalau mau seperti itu, buat saja subsidi sebanyak-banyaknya, semuanya senang. Tapi membangun rumah yang kokoh, yang perlu pondasi kuat, pilar yang kuat, sering saya sampaikan dalam perjalanan ke sebuah negara yang besar. Dan butuh proses yang tidak selalu menyenangkan," ujar mantan Wali Kota Solo itu.
Pada kesempatan itu, Jokowi juga bercerita tentang perasaanya sejak turun ke dunia politik. Beragam caci maki kasar pernah ia terima. Menurutnya, hal itu bukan budi pekerti bangsa Indonesia.
"Masa mengatakan kepada presidennya, maaf, plonga-plongo. Coba ditambahi lainnya, banyak kata-kata seperti itu, itu bukan sopan santun Indonesia," imbuhnya.
Ia berpesan cara seperti itu ditanggalkan dan diganti dengan pola pikir yang lebih baik, seperti membangun optimisme.
"Bagaimana mengubah pola pikir dari konsumsi ke produksi, dari negative thinking ke positive thinking guna membangun kualitas sumber daya manusia," pungkasnya. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved